Vila dari 30.000 Batang Bambu di Pulau Cempedak
15 Februari 2017
Pulau Cempedak. (Sumber: www.webintravel.com)
Di Pulau Cempedak yang mendadak viral karena DPRD Bintan meminta pembangunanya dihentikan pada awal 2017 lalu, telah berdiri 20 vila yang dibangun dari 30.000 batang bambu. Sebuah nuansa pedesaan di tengah laut Bintan yang dimungkinkan akan menarik wisatawan berkantong tebal untuk datang ke sana.
 
Oleh Andri Mediansyah
 
Gambaran bangunan bernuansa bambu ini diceritakan Yeoh Siew Hoon pada laman webintravel.com. Selepas melewati pasir putih pantai Pulau Cempedak, Selasa (14/2/2017), dia dan beberapa orang yang tergabung dalam sebuah kelompok, tercengang mendapati bangunan berstruktur bambu beratap spiral menyerupai gelombang. 

Banguan itu adalah vila. Nyaris semua bangunannya terdiri dari bambu. Lobi, bar dan restoran, termasuk kipas angin yang tergantung di plafon juga terbuat dari bambu. Vila-vila yang ada di Pulau Cempedak mengadopsi arsitektur bangunan Bali dan Jawa. Berbeda dengan bangunan yang ada di Nikoi yang merupakan satu manajemen dengan Resort Pulau Cempedak.

Adalah arsitek asal Inggris bernama Piers Berry yang merancang setiap bangunan yang ada. Dalam proyek ini, dia melibatkan sebanyak 120 orang yang 70 diantaranya bekerja di pulau tersebut. 

Piers telah bekerja keras dalam 36 bulan terakhir, menghabiskan waktu tiga bulan untuk setiap vila. Dia mengangkut sekitar 30.000 potongan bambu dari Jawa dan Sumatera menggunakan tongkang sepanjang 280 kaki, lalu merawat dan mengolahnya supaya tidak mudah dimakan rayap.

Menurut arsitek yang sebelumnya mengerjakan proyeknya di Panama ini, bangunan bambu di Pulau Cempedak adalah sebuah mimpi yang terwujud.

"Visinya adalah untuk bekerja dengan apa yang ada di sana, dan membangun kawasan sekitar, sehingga resor ini simbiosis dan saling melengkapi dengan alam. Kami melakukan segalanya dengan staf lokal dan barang-barang lokal. Kami menggunakan teknik bangunan lokal dan terus beradaptasi dengan kondisi cuaca ," kata Piers seperti ditulis Yeoh Siew Hoon pada laman webintravel.com.

Dia lalu tak sabar menyelesaikan pembangunan secara keseluruhan dan menyaksikan pelanggan pertama datang.

Hal senada juga disampaikan Andrew Dixon.  Dia adalah pengembang Pulau Cempedak. Dengan Cempedak menjadi proyek kedua setelah Nikoi, katanya, Cempedak dibangun atas dasar pengalaman. 

Menurutnya, dominasi bambu pada bangunan Cempedak didasari atas kerinduan orang terhadap suasana natural.

"Justru karena kita sekarang hidup pada masa teknologi tinggi, menyebabkan orang menghargai seni dan kerajinan bangunan yang dibuat dengan sentuhan tangan," sebutnya. 

Pengalaman mengelola Nikoi yang tak lama lagi merayakan ulang tahun yang ke 10 disebut Dixon menjadi sebuah pengalaman berharga.

"Orang-orang ingin makanan dan minumanan lokal, mereka suka buatan sendiri dan produk kerajinan sehingga muncul ketertarikan yang berkelanjutan," pungkasnya. Dia menegaskan permasalahan bisnis bukan hanya bicara bagaimana memasarkannya.

Kedepan, dia berharap Cempedak dapat tersebar dari mulut ke mulut seperti halnya Nikoi. Sekitar 10% dari bisnis datang melalui trpadvisor. Pemesanan menginap di Cempedak menggunakan SiteMinder. Dixon berharap pemesanan langsung lewat website.

Selain pada bangunannya, perbedaan Cempedak dibandingkan Nikoi bahwa pulau pribadi (private island) ini dikhususkan bagi mereka yang telah dewasa dengan harga 20-25% lebih mahal.

"Pulau pribadi masih unik. Di daerah kami, tidak ada banyak pulau pribadi. Orang ingin ruang dan privasi - itulah baru mewah, "kata Dixon.

Melibatkan Pekerja Lokal

Ketika ribut-ribut permintaan penghentian pembangunan Cempedak oleh Komisi I DPRD Bintan karena dianggap menyalahi aturan sedang hangat-hangatnya, Atok, seorang warga Tanjungpinang berharap penghentian itu tidak terjadi.

Dirinya yang dilibatkan mengajar bahasa Inggris kepada sejumlah pekerja lokal dalam proyek tersebut berpandangan jika Cempedak akan memberikan dampak postif bagi Bintan. Baik dalam hal perkembangan dunia pariwisata Bintan, maupun pendapatan masyarakat sekitar.

Nikoi disebut Atok yang mendasari hal ini. Diirnya yang hingga sekarang masih mendidik karyawan Nikoi supaya lancar berbahasa Inggris ini memberikan gambaran manajemen Nikoi dalam melibatkan tenaga kerja lokal.

"Secara bertahap mereka memberikan kesempatan kepada penduduk lokal untuk menempati posisi bagus dalam manajemen," kata Atok belum lama ini.

"Mereka juga tidak memandang latar belakang pendidikan. Penduduk lokal yang dianggap mampu akan ditempatkan dalam posisi pekerjaan yang bagus. Walaupun tadinya dia hanya sebagai room boy atau tukang sapu sekalipun," papar dia.

Dan ini juga dia sebut berlaku di Cempedak. Dia tahu jika sebelumnya mereka yang terlibat dalam pekerjaan awal pembangunan 70 persen bisa disebut adalah mereka yang didatangkan dari Jawa dan Bali. 

"Tapi lama kelamaan satu per satu pekerja lokal bertambah," ujarnya lagi.

Atok berharap pembangunan Cempedak terus berlanjut dan beroperasi dengan lancar.

"Akan ada banyak tenaga kerja lokal yang punya kesempatan bekerja di situ. Kawasan sekitar sedikit banyak akan berdampak. Dan tentunya ini akan menambah pendapatan daerah," katanya. (***)




Berita Terkait
Lihat Semua