Zamzami : Kepri Butuh Pemimpin yang Bisa Bengkitkan Perekonomian
11 Februari 2020
Zamzami A Karim. (Foto: ISTIMEWA)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Pengamat politik Kepri Zamzami A Karim menyampaikan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) membutuhkan sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan berbagai tantangan, terutama membangkitkan kembali perekonomian Kepri.

Menurut Zamzami, sosok pemimpin yang dia sebutkan itu merupakan sosok idela yang saat ini menjadi keinginan masyarakat Kepri.

"Melihat kondisi Kepri belakangan ini, 5 tahun sampai 10 tahun terakhir kita mengalami kondisi perekonomian yang menurun. Masyarakat sekarang sudah berharap, ini akan ada kebangkitan perekonomian kita," ungkap Zamzami.

Dulu, katanya, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7 persen. Kemudian pada zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah ke Kepri, mengatakan pertubuhan ekonomi Provinsi Kepri mencapai 10 persen.

"Artinya waktu itu pertumbuhan ekonomi kita bagus. Ada investasi, lapangan kerja. Kalau kita lihat sekarang kan mengalami penurunan, sehingga masyarakat berharap ada kebangkitan kembali ekonomi Kepri sebagai kawasan pertumbuhan nasional," ujarnya.

Untuk siapa calon pemimpin Kepri, lanjutnya, itu tergantung penilaian masyarakat. Saat ini, paling tidak sudah ada empat nama kuat yang sudah menunjukkan keseriusannya.

"Ada nama Soerya Respationo, Isdianto, Ismeth Abdullah dan Huzrin Hood. Masih dengan nama-nama lama. Menurut saya kalau dilihat saat ini, di Kepri partai-partai kita tidak punya kader lain yang kuat. Bisa dibilang krisis kader partai," ujar Zamzami.

Ditambhannya, saat ini PDI Perjuangan Kepri masih mengandalkan Soerya Respationo. PDIP belum berani membuka peluang kader-kader lainnya. Sedangkan Partai Golkar juga masih bertumpu kepada Ansar Ahmad dan juga belum berani membuka kotak selain Ansar.

"Untuk Partai Gerindra tidak punya kader kuat dan Partai NasDem juga kehabisan kader. Sedangkan Muhammad Rudi, saya rasa masih meneruskan di Batam. Kemudian Partai Demokrat, ada Apri Sujadi juga masih di Bintan," ujarnya.

"Dari awal saya sudah kecewa dengan partai, karena mereka tidak menyiapkan kader-kader baru dan tidak berani mengusung kadernya. Akhirnya banyak yang jualan partai untuk orang. Ini disebut Politik Kartel," terangnya.

Sementara itu, untuk Ismet dan Huzrin mengandalkan romantisme. Ismet muncul, karena orang merindukan tentang masa lalunya. Pada kejayaannya sebagai sosok manajerial yang pernah membangun Kepri awal-awal dulu.

Sedangkan Huzrin yang dikenal tokoh perjuangan Kepri, juga merupakan "Solidarity Maker" yakni seorang yang membangun solidaritas antar kelompok dan membangun semangat kebersamaan.

"Dua sosok ini bisa diperhitungkan karena orang merindukan masa lalu. Memang saat ini belum terlalu gambar gembor soal calon yang serius, namun saya rasa di akhir Bulan Februari ini mulai ramainya," pungkas Zamzami. (Rico)





Berita Terkait
Lihat Semua