Melihat Pabrik Pembuatan Gaharu di Desa Toapaya
09 Januari 2020
Tumpukan geharu di sebuah pabrik di Cikolek, Desa Toapaya, Kecamatan Toapaya Bintan. Ribuan geharu, mulai dari berukuran sebesar lidi hingga mencapai 12 kaki diproduksi setiap harinya. (Foto: Andri Mediansyah)
Dari sebuah pabrik di Cikolek Desa Toapaya Bintan, asap gaharu mengepul di rumah-rumah pemujaan yang ada di Kepulauan Riau.

Pewarta : Andri Mediansyah

Pabrik itu berada di antara perkebunan di kawasan Cikolek, Desa Toapaya, Kecamatan Toapaya, Bintan. Letaknya terbilang tersembunyi di antara rimbun kelapa dan perkebunan masyarakat setempat. Tak ada penanda kecuali sebuah pagar yang akan dibuka oleh penjaga pabrik. 

Di sini, sejumlah pekerja terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Umumnya mereka bekerja dengan cara dan peralatan konvensional. Hanya terdapat satu mesin yang diberdayakan mencetak gaharu ukuran kecil.

Di pabrik ini diproduksi beraneka jenis gaharu. Dari yang seukuran sebesar lidi, hingga setinggi mencapai 12 kaki. 

Gaharu setinggi 12 kaki yang telah dikeringkan kemudian dicat. Pengecatan dilakukan dalam beberapa tahap. (Foto: Andri)

Ada 18 pekerja yang dilibatkan dalam pembuatannya. Mereka memiliki tugas masing-masing: membuat cetakan, mewarnai, mengangkut dan mengeringkan dupa, atau membubuhkan label untuk yang sudah siap dipasarkan.

Ribut, salah seorang pekerja di pabrik ini menjelaskan, ada ribuan batang gaharu diproduksi setiap hari. Namun gaharu yang bisa diproduksi sebanyak itu hanya berlaku untuk yang berukuran kecil. Tidak dengan gaharu dengan ukuran besar.

Untuk geharu ukuran setinggi 3 kaki saja, dibutuhkan waktu setidaknya 5 bulan hingga betul-betul siap untuk digunakan. 

"Ada berapa kali tahapan yang harus dilewati," jelas Ribut Desember lalu.

Ribut, salah seroang pekerja menjemur bagian kepala gaharu berbentuk naga. Bagian kepala geharu ini dikerjakan secara terpisah. (Foto: Andri)


Gaharu berukuran mulai 3 kaki hingga 12 kaki dikerjakan bertahap. Dikerjakan lapis per lapis yang setiap lapisannya memakan waktu 5 bulan. Lapisan dimaksud berupa serbuk kayu yang dicampur lem khusus gaharu.

"Dilapis kemudian dijemur sampai satu bulan, lalu dilapis lagi sampai seukuran yang diinginkan. Paling cepat bisa 4 bulan. Setelah itu baru bisa ditempel motif dan dicat," paparnya.

Gaharu yang telah siap dipasarkan kemudian diberi label. (Foto: Andri)


Beroperasi Sejak 2002

Menurut Ribut, pabrik tempat dia bekerja ini mulai dibangun mulai tahun 2001, dan sudah memproduksi secara normal pada tahun berikutnya. Selain gaharu, pabrik ini juga memproduksi lilin.

Pada masa awal beroperasi, pabrik ini memproduksi dalam jumlah banyak, dipasarkan ke sejumlah daerah di Kepulauan Riau seperti Tanjungpinang, Batam, Tanjungbalai Karimun, dan Tanjungbatu. 


Selain dikerjakan mengunakan alat konvensional, pembuan gaharu, khususnya berukuran kecil juga menggunakan mesin khusus. (Foto: Andri)

Namun seiring perjalan, kini produksi sudah mulai mengalami penurunan. Saat ini, rata-rata dalam sebulan mereka memproduksi setidaknya antara 400 - 500 gaharu berukuran besar. 

"Walau bisa disebut jumlah produksi menurun, tapi pesanan tetap lancar," jelasnya.

Permintaan gaharu akan meningkat menjelang hari besar Umat Budha atau Konghucu. Menjelang Imlek seperti sekarang ini misalnya. (*) 




Berita Terkait
Lihat Semua