Sosok BJ Habibie Di Mata Ketua BP Batam
13 September 2019
Kepala BP Batam Edy Putra Irawady berbincang dengan BJ Habibie saat kunjungannya ke BP Batam April 2019 lalu. Kepergian BJ Habibie menyisakan kesedihan mendalam khususnya bagi BP Batam. (Foto: IST/Humas BP Batam)
INILAHKEPRI, BATAM - Kepergian Presiden Republik Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, menyisakan kesedihan mendalam bagi sebagian besar masyarakat Batam. Demikian Badan Pengusahaan (BP) Batam, dimana BJ Habibie pernah menjabat Direktur Otorita Batam pertama. 

Kesedihan atas berpulangnya Bapak Pembangunan di Kota Batam ini pun turut dirasakan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady.

Bagi Edy, sosok BJ Habibie merupakan legenda bagi Batam. Edy menyebut Habibie  sebuah aset nasional bahkan internasional yang dimilik Indonesia.

"Dari pemikiran beliaulah kini Batam menjadi sebuah kota yang pesat akan pembangunannya, baik di industri hingga ekonominya," ujar Edy, Jumat (13/9/2019).

Tidak saja sebagai seorang pemimpin, BJ Habibie bagi Edy juga sebagai guru yang tidak ada tandinganya karena mampu mengembangkan sumber daya manusia dan Iptek yang luar biasa.

"Jujur saya sangat kehilangan dan berduka, sedih atas kepergian Almarhum," katanya. 

Edy juga mengaku tidak menyangka bahwa pertemuannya pada April 2019 lalu menjadi pertemuan terakhir bagi dirinya bersama Bapak Pembangun Batam ini.

Pada kunjungannya ke Batam April 2019 lalu, Edy mengaku dirinya sempat bertanya tentang pembangunan dirgantara di Batam. 

Edy juga mengenang saat April 2019 BJ Habibie pulang dari Batam ke Jakarta. 

"Saya melepas beliau di pintu pesawat karena aturannya pengantar hanya sampai disitu. Tapi tidak crew meminta saya masuk. Almarhum melambaikan tangannya seraya menyuruh dirinya mendekat dan duduk didekatnya," kenang Edy. 

BJ Habibie kemudian memegang tangan Edy. 

"Saat itu almarhum merangkul dan cium saya dan bilang sampai ketemu di Jakarta. Ternyata itu pertemuan terakhir. Saya mencoba untuk bezuk beliau di RSPAD 2 hari yang lalu, tapi saya diberitahu belum bisa hanya keluarga terdekat saja yang dibolehkan karena beliau harus istirahat dengan tenang," jelas Edy.

Menurut Edy, sebelumnya almarhum ingin membuat propeler 80, dibanding dengan pesawat kargo air atau pesawat penumpang commuter di air meski Kepri kepulauan.

Hal ini disampaikan Almarhum saat menyempatkan diri berkunjung ke Kantor BP Batam untuk bersilaturahmi dan bertatap muka dengan seluruh karyawan BP Batam.

Kunjungannnya kali ini seolah menjadi nostalgia saat mantan Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (yang kini dikenal dengan BP Batam) ini, kembali menginjakkan kaki di Ruang Balairung Sari dan disambut dengan hangat oleh Kepala BP Batam Edy Putra Irawady, beserta 500 lebih perwakilan karyawan yang hadir.

Dalam masa kepimpinannya, Habibie membuat Batam berkembang sangat pesat, ia mengubah arah pembangunan Batam tidak hanya sekedar basis logistik Pertamina, melainkan mengubah Batam menjadi proyek nasional yang memberikan nilai tambah tinggi untuk kepentingan nasional dengan menyiapkan sarana dan prasarana infrastruktur untuk mengundang investasi ke Batam.

Habibie juga mengingatkan agar semua perencanaan Batam saat ini harus kembali pada Undang-Undang yang mengaturnya.

"Batam itu dibangun bukan tanpa alasan, Batam itu ujung tombak NKRI, tidak ada jalan lain, Batam Harus Back to Basic," kata BJ Habibie saat berkunjung ke Batam. 

Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia Rabu (11/9/2019). Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal akibat penyakit yang dideritanya di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. (adi)




Berita Terkait
Lihat Semua