Pencari Suaka Mulai Alami Gangguan Mental
09 Agustus 2019
Aksi unjuk rasa digelar para pencari suaka di depan Kantor IOM Perwakilan Tanjungpinang, Jumat (9/8/2019). (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Para pencari suaka yang ditempatkan di Kawal, Bintan, Kepulauan Riau, mulai mengalami gangguan mental. 

Salah seorang pencari suaka asal Afganistan, David, mengaku dia dan sebagian besar pencari suaka yang ditempatkan di Hotel Badrah, Kawal, Bintan, mulai mengalami depresi karena memikirkan nasib mereka yang tidak kunjung diberangkatkan ke negara ketiga yang akan menampung mereka. Ketiga negara dimaksud yakni Amerika Serikat, Australia dan Kanada.

"Sudah tujuh tahun kami di sini (Bintan, Indonesia), tetapi tidak juga diberangkatkan," kata dia di sela unjuk rasa di Kantor International Orgranization of Migran (IOM) Tanjungpinang, Jumat (9/8/2019) pagi.

"Sejumlah kawan kami meninggal karena depresi," katanya menujuk spanduk berisi foto dan identitas pencari suaka yang meninggal dunia selama berada di penampungan di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Kami menuntut IOM dan UNHCR segera memberangkatkan kami," tandasnya.

Jumat pagi tadi, ratusan pencari suaka dari berbagai negara yang ditampung di Kawal, Bintan, Kepulauan Riau, kembali berunjuk rasa.

Aksi itu merupakan hari kelima sejak mereka menggelar aksi yang sama pada Senin (5/8/2019) lalu.

Mereka datang dengan membawa poster dan spanduk berisi tuntutan. Mereka mengancam akan kembali menggelar aksi serupa pada 18 Agustus 2019 mendatang. Aksi itu mereka sebut tidak akan berhenti sampai mereka mendapat penjelasan dan kepastian dari IOM dan UNHCR. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua