Mengenang Pengibaran Merah Putih dan Pembacaan Proklamasi Pertama di Tanjungpinang
05 Agustus 2019
Tugu Proklamasi berada persis di depan Gedung Daerah, Tanjungpinang. (Dokumen inilahkepri.com)
Setelah Indonesia merdeka, sempat terjadi tarik ulur kemana Riau (sekarang Kepulauan Riau) akan bergabung: ke wilayah kedaulatan Republik Indonesia, atau Singapura yang serumpun. Sampai akhirnya bendera merah putih berkibar di langit Tanjungpinang 29 Desember 1949, 5 tahun setelah Soekarno-Hatta memprokalmirkan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Pewarta : Andri Mediansyah

Bukti sejarah ketika dikibarkannya bendera merah putih pertama kali di Kepulauan Riau dapat dibaca di Tugu Proklamasi, Tepi Laut Tanjungpinang. Tugu menghadap Gedung Daerah ini sebagai simbol mengenang sejarah pertamakali merah putih berkibar dan dibacakannya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Tanjungpinang.

Pengibaran bendera merah putih di Tanjungpinang ini tidak serta merta berlangsung begitu saja. Ini berlangsung setelah adanya sebuah proses cukup panjang - melalui perdebatan, khusnya kemana Kepulauan akan bergabung.

Mengutip antara.com, 14 Agustus 2014, Imam Sudrajat, seorang veteran, mantan prajurit Komando Operasi Tertinggi Operasi A Angkatan Darat, memaparkan kisahnhya. Dia sudah menetap di Tanjungpinang sejak berusia 24 tahun, ditugaskan turut mengusir penjajah Inggris dari Kepulauan Riau.

Pria kelahiran Jakarta 9 November 1939 ini menjadi saksi sejarah pengibaran bendera merah putih dan pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pertama kalinya di Tanjungpinang. 

Adalah pamannya bernama Mochtar Husin yang kala itu bertugas mengerek bendera merah putih. Mochtar Husein adalah salah satu yang memperjuangkan Kepulauan Riau masuk Indonesia. Kala itu dia menjabat sebagai Ketua Dewan Riau. 

Tahun 1949, bersama Tengku Saleh asal Lingga, Mochtar Husein melapor kepada Presiden Soekarno mengenai keinginan Kepulauan Riau masuk menjadi bagian kedaulatan Indonesia. Keinginan itu disampaikan di tengah adanya dualisme pendapat. Sebagian masyarakat ingin bergabung bersama Indonesia, sedang sebagian lagi menginginkan bergabung dengan Singapura yang juga jajahan Inggris.

Menurut Imam Sudrajat, kedua pendapat ini sama-sama memiliki dasar yang kuat. Kepulauan Riau masuk dalam bagian kedaulatan RI karena didasarkan sejarah Nusantara, sedangkan Singapura merupakan negara serumpun, berdekatan dengan Tanjungpinang dan sama-sama dijajah Inggris. 

Di tengah tarik ulur keinginan inilah Mochtar bersama rekan-rekan seperjuangannya memberanikan diri, mendesak Kepulauan Riau masuk dalam wilayah kedaulatan NKRI. Keinginan itu mendapat dukungan penuh dari Presiden Soekarno.

Maka dibuatkan sejarah yang mirip dengan pengibaran Sangsaka Merah Putih pertama di NKRI Jakarta. Rahma binti Rahmat (mertua Imam Sudrajat) dan Uni Daiya (warga Tepi Laut) bersama menjahit bendera merah putih.

Bendera itu lantas dikibarkan di sebuah rumah yang berada di depan Gedung Daerah pada 29 Desember 1949. Bendera dikibarkan di atas tiang berada di pojok sebelah kanan rumah tersebut.

Rumah itu kini telah tergusur karena dianggap kumuh. Demikian pondasi tiang bendera yang bergeser setelah Pemerintah Kota Tanjungpinang masa kepemimpinan Suryatati A Manan membangun Tugu Proklamasi. (*)




Berita Terkait
Lihat Semua