Simalakama Pembentukan Komunitas Cagar Budaya Tanjungpinang, Pilih Didemo Atau Kehilangan Warisan
31 Juli 2019
Komplek Istana Kantor, salah satu cagar budaya Tanjungpinang yang terletak di Pulau Penyengat. (Foto: Dokumen inilahkepri.com)
Pemerintah Kota Tanjungpinang lewat Dinas Kebudayaan dan pariwisata melegalkan terbentuknya Komunitas Cagar Budaya dinamai Komunitas Lestari Cagar Budaya Tanjungpinang - sebuah komunitas yang disadari nantinya akan berseberangan dengan kepentingan pemerintah.

Pewarta : Andri Mediansyah

"Melestarikan cagar budaya terbaik adalah berbasis masyarakat," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang Surjadi, saat kegiatan pembentukan Komunitas Lestari Cagar Budaya Tanjungpinang di Hotel Plaza Bintan, Selasa (30/7/2019).

Kata Surjadi, dirinya sadar bahwa membentuk komunitas ini adalah pilihan terbaik meski ada risiko yang bakal dihadapi pemerintah. Risiko dia maksud adalah bahwa komunitas ini nantinya akan berseberangan dengan pemerintah, memberikan kritik, atau bahkan didemo atas kebijakan yang mungkin tidak selaras dengan kepentingan pelestarian cagar budaya.

"Itu konsekuensi yang memang sudah Kami sadari," sebut Surjadi, Kamis (31/7/2019).

Menurut Surjadi, jalan pembentukan Komunitas Lestari Cagar Budaya di Tanjungpinang adalah salah satu jalan untuk mempertahankan cagar budaya yang telah ada.  Tanjungpinang disebut Surjadi merupakan kota yang istimewa, memiliki tiga sumber besar cagar budaya yang hingga kini masih bisa dinikmati. 

Ketiga sumber dimaksud adalah peninggalan Kerajaan Johor-Pahang_Riau Lingga, peninggalan masa kolonial, dan heritage (warisan) Pecinaan masa lalu yang masih tegak berdiri. 

DI Tanjungpinang saat ini dia sebut tercatat ada 85 heritage yang hampir separuhnya berada di pulau penyengat. 

"Jumlah itu yang sudah tercatatkan. Belum lagi yang masih belum distudikan," kata dia.

Dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dia katakan tidak ingin lagi kehilangan beberapa heritage penting yang ada di Kota Tanjungpinang.  Beberapa heritage dimaksud berupa Gudang Candu VOC (kemudian sempat difungsikan menjadi SMP 2) yang kini telah berubah menjadi Bestari Mall di Jalan Teuku Umar, Sekolah Toan Poon, dan sejumlah cagar budaya lain yang telah berubah bentuk.

"Hal ini menyedihkan karena hertage itu sangat penting bagi sejarah kota ini. Dan kita tidak ingin itu kembali terjadi," tegas Surjadi.

Surjadi berharap Komunitas Lestari Cagar Budaya Tanjungpinang yang beranggotakan 100 orang dari berbagai disiplin ilmu serta profesi ini bisa eksis mewarnai usaha pelestarian cagar budaya  yang ada di Kota Tanjungpinang.

"Kita berharap 100 tahun ke depan dan seterusnya, semua heritage itu masih terjaga dan bisa dinikmati oleh generasi setelah kita," pungkasnya. (*)




Berita Terkait
Lihat Semua