Sehelai Rambut di Makanan Ternyata Berbahaya Untuk Kesehatan, BPOM Fokus Awasi Jajanan Sekolah
26 Juli 2019
Kantin salah satu SD swasta di Tanjungpinang. (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Makanan sehat bagi anak-anak menjadi salah satu fokus pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk jajanan di sekolah.

Kepala BPOM Batam, Yosep Dwi Irwan Perkasa di Tanjungpinang belum lama ini mengatakan, ada beberapa kriteria standar jajanan sehat, yakni : bebas dari cemaran fisik, bebas bahan kimia dan mikrobiologi.

Jajajan sehat bagi anak-anak, khususnya di sekolah disebut Yosep harus memiliki kriteria tersebut.

Makanan yang sehat yang bebas dari cemaran fisik bisa dipandang secara kasat mata.

"Misalnya rambut. Ini jangan dianggap enteng karena bisa membawa bibit penyakit. Contoh lainnya batu kerikil, kemudia steples. Kadang-kadang benda seperti ini terdapat di jajanan yang dijual," ujarnya.

Makanan yang sehat juga tentunya bebas dari formalin, borax, rhodamin B, dan metanil yellow.

"Kandungan kimia ini harus dikawal betul-betul. Kami BP POM telah melakukan pencegahan melalui repites dan akan lakukan uji penegasan terhadap sampel jajanan," ungkap Yosep lagi.

Yang tidak kalah berbahaya lainnya adalah mikrobiologi. Menurut Yosep, berbahayanya kandungan ini pada makanan mengingat mikrobiologi tidak kasat mata, namun bisa berkembang dengan cepat hingga bisa menyebabkan keracunan.

"Dalam hitungan jam bisa berkembang menjadi puluhan juta dan menyebabkan keracunan," tegasnya.


Menurut Yosep, terkait temuan pangan jajanan sekolah yang tercemar fisik, bebas bahan kimia dan mikrobiologi memang masih relatif kecil. Namun pihaknya masih menemukan sejumlah hal yang dianggap kurang layak. Seperti mengambil makanan tanpa penjepit, masih pergunakannya minyak yang sudah untuk menggoreng.

"Ada ditemukan jajanan yang tidak bersih atau tidak sanitasi. Dan ini cukup berbahaya," sebutnya.

Yosep juga mengingatkan minuman suplemen bagi anak-anak, khususnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. 

"Ada batasan usia untuk mengkonsumsi. Jangan karena rasanya manis, lalu minum berkali-kali. Walau pun sudah ada label aman dari BPOM, tetapi tetap saja harus ada batasannya," pungkas Yosep.

Dia menegaskan pedagang harus memenuhi ketentuan yang ada mengingat ada sanksi jika mengabaikan terkait dengan keamanan pangan. Mulai dari pemusnahan produk, denda bahkan pidana jika sampai menimbulkan kerugian jiwa. Ada  undang-undang pangan yang mengatur sanksi dimaksud.

"Yang jelas, pangan menjadi tanggungjawab bersama. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi semua pihak harus bersinergi secara komperhensif untuk memberikan hak-hak anak yang paripurna," tutup Yosep. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua