Ke Senggarang, Janganlah Cuma Berhenti di Klenteng Besar
17 Juli 2019
Patung biksu di depan Vihara Bahtera Sasana atau Klenteng Besar di Senggarang, Tanjungpinang. (Foto: Andri/Dokuman inilahkepri.com)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Dinas Pariwisata Tanjungpinang mencatat, setidaknya ada 6.000 wisatawan datang ke senggarang. Dan mereka lebih berfokus mengamati Vihara Bahtera Sasana atau atau oleh masyarakat sekitar disebut Klenteng Besar.

"Setelah itu tak ada nextnya. Mereka langsung balik kanan bubar jalan. Padahal di sekitar banyak potensi untuk menjadi penunda pulang yang menyenangkan, sekaligus mendorong ekonomi lokal," ujar Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang, Surjadi.

Padahal, di senggarang masih banyak sudut lain di Senggarang yang tak kalah menarik, bahkan "instagramable banget".

Di Senggarang atau disebut Toa Po (Kota Tua) terdapat sebuah pabrik kecap tradisional berusia 40 tahun lebih - pabrik yang hingga sekarang masih menjaga orisinalitas produksinya. 

Ada juga rumah Kapitan Cina pertama di Senggarang yang sekarang menjadi Klenteng kecil dinamai kelenteng akar. Rumah kapitan China  didirikan tahun 1811 ini menjadi tonggak sejarah penting di Tanjungpinang. 

Lalu masih ada rumah gambir, saksi sejarah bagaimana di masa YDM IV Raja Haji mengembangkan komoditas gambir, dan membawa pekerja etnis Tionghoa ke negeri Riau. Rumah ini menjadi rumah bos pengolahan gambir yang masih relatif utuh hingga sekarang. 

"Belum lagi kalau kita berjalan menelusuri plantar di perumahan tua Senggarang, arsitektur china masa lalu begitu menarik untuk singgah dalam memori foto anda," ujar Surjadi.

Menurutnya, bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, Surjadi menegaskan pihaknya akan mendorong pengembangan wisata di senggarang.

"Jadi ke Toa Po tidak cuma berhenti di Klenteng Besar. Bagaimana wisatawan yang datang ke sini bisa mengitari spot menarik lain yang ada di Senggarang," papar Surjadi. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua