Tunas Asa di Sungai Sudip
14 Juli 2019
Petani cabai di Sungai Sudip, Kelurahan Dompak Tanjungpinang. (Foto: Andri)
Setelah sempat terlena oleh cara mudah mendapatkan penghasilan dari pertambangan bijih bauksit, warga Sungai Sudip, Tanjungpinang, kini kembali bergairah mengolah lahan pertanian. Mental mereka mulai tumbuh seperti tunas dari bibit yang mereka semai.

Pewarta : Andri Mediansyah

Lantunan ayat Al Quran nyaring terdengar dari pengeras suara surau ketika seorang warga di Kampung Sungai Sudip masih terlihat sibuk di lahan pertanian. Awal Juni 2019 lalu, pria bertubuh ideal itu, satu persatu meletakkan butiran di tahah hitam yang sudah dibajak. Dan dia baru bergegas pulang setelah azan magrib berkumandang.

Lelaki itu tinggal tak jauh dari lahan yang ia usahakan bersama sejumlah petani lainnya di Kelompok Tani Bunga Mawar. Sudah setahun belakangan mereka kembali giat mengusahakan lahan subur yang bisa dikatakan tergolong langka ditemui di Tanjungpinang yang umumnya mengandung bijih bauksit.

Warga setempat, Abdul Hamid Sagala menjelaskan, pernanian sebetulnya bukan "barang baru" bagi warga di Sungai Sudip. Puluhan tahun lalu, tanah di Sungai Sudip, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang ini dipenuhi hamparan hijau ladang yang ditanami beraneka tanaman.

"Bapak saya salah satunya," kata Abdul Hamid yang merupakan Ketua Kelompok Tani Bunga Mawar Sungai Sudip.  

Warga di tempat itu sebagian besar tadinya bergantung dari pertanian, sektor usaha yang jarang ditekuni oleh sebagian besar warga Tanjungpinang. Bisa dikatakan tidak ada warga setempat yang menjadi nelayan sebagaimana warga di Pulau Dompak yang hanya berjarak sepelemparan batu.

Sekitar tahun 2010, petani di sana satu per satu mulai meninggalkan tanah yang telah memberi mereka penghidupan. Pertambangan bauksit yang marak di sekitar Dompak dan Pulau Bintan membuat sebagian besar Petani di Sungai Sudip "menggantung cangkul". Mereka lebih memilih cara mudah mendapat uang.

"Warga di sini dasarnya adalah petani. Saat transisi ke pertambangan bauksit, masyarakat meninggalkan pertanian, bekerja di pertambangan yang dianggap lebih mudah dapat duit," kata Abdul Hamid.

Tapi pundi dari ladang bauksit tidak berlangsung lama. Tanggal 12 Januari 2014, pemerintah menghentikan kegiatan penambangan melalui Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. 

Banyak orang kehilangan pekerjaan. Tak luput warga Sungai Sudip.

Menggalang Mental Kembali Jadi Petani

Abdul Hamid Sagala adalah salah seorang penggiat pertanian di Sungai Sudip. Bersama sejumlah warga lainnya dia membentuk kelompok Tani dinamai Bunga Mawar. Sejak dua tahun terakhir mereka mulai menggarap lahan yang tadinya terbengkalai. Mereka menanam berbagai jenis sayur dan buah: cabai, melon, bengkoang, dan sejumlah jenis sayur lainnya.

"Upaya itu cukup berhasil. Kami sudah beberapa kali panen. Bahkan ada warga yang jadi isnpirasi kami. Dia bisa pulang ke kampungnya di Jawa naik pesawat," ujar Abdul Hamid.

Dan upaya Abdul Hamid bersama kelompok taninya menarik perhatian Pertamina. Tahun 2018, Pertamina setuju memberikan bantuan kepada Kelompok Tani Bunga Mawar. Sejak Januari 2019, Pertamina menjalankan bantuan lewat Program Tanggung jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).

"Pemilihan lokasi (Sungai Sudip) berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh FlipMAS Batobo bersama Pertamina," terang Fadil, Ketua Forum Layanan Ipteks bagi Masyarakat (FLipMAS) Batobo, Jumat (12/7/2019). 

Sejumlah kriteria dimaksud yakni adanya lahan marginal, luas lahan minimal 3 ha dalam satu hamparan, ada sumber air, serta ada kelompok tani yang akan menggarap serta mau diberdayakan.

"Dari hasil site visit (tinjauan lapangan) yang dilakukan oleh pihak Pertamina Region bersama FLipMAS Batobo, maka kampung sungai sudiplah yang memenuhi kriteria tersebut," terang Fadil lagi.

Pertamina memberikan bantuan mulai dari pengolahan lahan, bibit cabe, pupuk, obat-obatan, sistem pengairan, peralatan pertanian, sampai membiayai pembangunan pondok yang difungsikan sebagai balai pertemuan bagi petani.

"Intinya semua kebutuhan mulai dari pengolahan lahan, tanaman hingga panen dibiayai," ujar Fadil.

Tidak hanya permodalan, lewat FlipMAs Batobo, Pertamina juga memberikan bimbingan teknis dengan menurunkan para dosen sesuai kebutuhan di lapangan, seperti dosen budidaya pertanian atau dosen sipil untuk pengairan. 

Miniman sebulan sekali parah ahli itu diterjunkan memantau perkembangan tanaman cabai, termasuk memberikan solusi jika dalam perjalanannya ditemukan permasalahan.  

"Dari lahan yang tertanam sekarang, jika tidak ada halangan minimal panen 10 ton," ujar Fadil optimis. 

FlipMAS Batobo berharap Program CSR Pertamina ini nantinya dapat keberlanjutan walaupun bantuan sudah berakhir.

Namun lebih dari itu, warga Sungai Sudip - sebagaimana disampaikan Abdul Hamid - merasakan bantuan yang diberikan tidak hanya memberi pengetahuan bagi mereka untuk dapat mandiri.

Hamid menegaskan jika dia dan warga lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Bunga mawar merasakan mental mereka dalam mengembangkan pertanian kembali terasah.

"Yang sulit adalah mengembalikan mental itu," kata Hamid.

Sekian lama warga di Sungai Sudip dia sebut memiliki keraguan untuk kembali bertani. 

"Mental warga di sini sebelumnya drop karena takut pertanian tidak bisa memberikan masa depan," ujar Hamid.

"Tapi sekarang kami yakin," tegasnya lagi.

Senada itu, Camat Bukit Bestari, Faisal Fahlevi berharap lebih dari apa yang kini diupayakan Abdul Hamid dan kelompok tani lainnya yang ada di Kelurahan Dompak. pemerintah dia sebut pertanian di Sungai Sudip akan terus berkembang sehingga bisa menjadi penyangga ketahanan pangan Tanjungpinang yang selama ini memang bukan tergolong daerah penghasil.

"Dengan majunya pertanian di sini (Sungai Sudip), tentu kita berharap apa yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan di Tanjungpinang sehingga tidak lagi bergantung dari daerah luar," paparnya saat berkunjung ke Sungai Sudip ahhir Juni lalu. (*)




Berita Terkait
Lihat Semua