Keunikan Masjid Sultan Riau Penyengat yang Belum Banyak Diketahui
25 Desember 2016
Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat. (Foto: Andri Mediansyah)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Banyak keistimewaan dan keunikan dimiliki Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Disamping arsitektur serta proses pembangunan yang menggunakan putih telur yang telah mahsyur, ternyata Masjid kebanggaan orang Melayu yang didirikan pada tanggal 1 Syawal 1249 H (1832 M) atas prakarsa Raja Abdurrahman, Yang Dipertuan Muda Riau VII ini menyimpan keunikan lainnya. Apa saja? Berikut seperti dijelaskan wikipedia:

1. Al Quran Tulisan Tangan 
Jika masuk ke Masjid Sultan Riau, di pintu utama  pengunjung akan menjumpai mushaf Al Quran tulisan tangan. Al Quran ini ditempatkan di dalam peti kaca dengan ukuran cukup besar. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul, putera Riau asli Pulau Penyengat yang diutus oleh Sultan untuk belajar di Turki pada tahun 1867 M.

Sebenarnya, masih ada satu lagi mushaf Al Quran tulisan tangan karya Abdullah Al Bugisi yang terdapat di masjid ini, namun tidak diperlihatkan untuk umum. Usianya lebih tua. Dibuat pada tahun 1752 M. Di bingkai mushaf yang tidak diketahui siapa penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Al Quran. Hal ini mengindikasikan bahwa orang-orang Melayu tidak hanya menulis ulang mushaf, tetapi juga mencoba menerjemahkannya. Sayangnya, mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada pengunjung lantaran kondisinya sudah rusak. Mushaf ini tersimpan bersama sekitar 300 kitab di dalam dua lemari yang berada di sayap kanan depan masjid.


2. Mimbar 
Benda lainnya yang menarik untuk dilihat adalah sebuah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Mimbar ini khusus didatangkan dari Jepara, sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa yang terkenal dengan kerajinan ukirnya. Sebenarnya, ada dua mimbar yang dipesan waktu itu, yang satu adalah mimbar yang diletakkan di Masjid Sultan Riau, sedangkan yang satunya lagi berukuran lebih kecil diletakkan di masjid di daerah Daik Lingga.

3. Pasir dari Tanah Makkah Al-Mukarramah
Selain Al Quran dan mimbar, di dalam Masjid Sultan Riau juga tersipan sepiring pasir yang konon berasal dari tanah Makkah al-Mukarramah. Pasir ini berada di dekat mimbar, melengkapi benda-benda lainnya seperti permadani dari Turki dan lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an. 
Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan Riau pertama yang menunaikan ibadah haji, yaitu pada tahun 1820 M. Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak. (Sumber: wikipedia)




Berita Terkait
Lihat Semua