Pulau Terkulai dan Kesetiaan Penjaga Menara Suar
01 Juli 2019
Pulau Terkulai dengan menara suar menjulang di tengahnya. Dari menara suar telihat hamparan laut dan Kota Tanjungpinang, Kota Batam dan sebagian besar daratan Pulau Bintan. (Foto: Istimewa)
Di pulau berjarak tempuh sekitar 1 jam kapal motor dari Kota Tanjungpinang ini tersimpan kedamaian dan kesetiaan penjaga menara suar yang menjulang.

Pewarta : Andri Mediansyah

Siapkan tenaga ekstra jika ingin menaiki menara suar yang ada di Pulau Terkulai. Ada beratus anak tangga melingkar di 10 lantai bangunan setinggi 45 meter ini. Selain tenaga, keberanian juga dibutuhkan.

Tiupan angin kencang menerpa setibanya di puncak menara yang rampung dibangun Juli 2018 lalu.

Tapi diantara itu, mata Anda akan dipandu menyusuri hamparan hijau biru laut dan pekat terumbu karang. Terlihat pula Pulau Batam, Kota Tanjungpinang, dan sebagian besar daratan Pulau Bintan. Dari ketinggian menara suar, pucuk kelapa terlihat kecil. Terlebih sampan nelayan atau kapal antar pulau yang lalu lalang.

Di Pulau ini, selain menara suar terdapat sejumlah bangunan. Tak jauh dari menara berbentuk kubus warna putih merah, terdapat sisa menara suar yang sudah tidak lagi berfungsi. Ada juga bekas bangunan penjaga yang masih berdiri tegak tanpa atap tak jauh dari bangunan penjaga suar baru seusia menara suar yang juga belum lama dibangun.

Pulau Terkulai, pulau ini dapat dilihat jelas dari Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Penandanya adalah menara suar yang menjulang di tengah pulau. Saat ini tidak ada transportasi regular melayani perjalanan ke tempat itu. 

Satu-satunya jalan adalah menyewa jasa pompong yang dapat dengan mudah dijumpai di Pelantar Penyengat atau pelantar terdekat lainnya. Tarifnya sekitar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Tergantung kesepakatan dan lama berada di sana.

Di tepian pantai Pulau Terkulai, terdapat gubuk yang sengaja dibangun oleh nelayan. 

"Ada belasan," kata Usman (54), nelayan asal Desa Busung, Bintan, dijumpai Minggu (31/6/2019).

Menurutnya, gubuk itu memang sengaja dia bangun untuk dijadikan sebagai tempat persinggahan di saat cuaca tidak bersahabat. Seperti Usman, nelayan asal Kampung Bugis Tanjungpinang, Pulau Mubut dan Pulau Karas - yang masuk wilayah Kota Batam - juga sering singgah di pulau itu.

"Kami penduduk musiman. Kami tinggal di sini sementara. Cuma sekedar singgah," ujar Usman.


Tempat Penyu Bertelur

Menurut Usman, perairan sekitar Pulau Terkulai masih memberikan harapan bagi mereka untuk mencari nafkah. Menurutnya, terumbu karang di sekitar pulau itu masih cukup nyaman untuk ikan berkumpul. 

"Ketam (kepiting) juga masih mudah didapat," katanya.

Tidak hanya Usman, sejumlah warga di Bintan maupun Tanjungpinang mengaku cukup akrab dengan Pulau Terkulai. Abdul Basyid misalnya. 

"Pada musim tertentu, pulau itu sering disinggahi penyu untuk bertelur," kata Basyid yang Sekretaris KPU Tanjungpinang itu. 

Arfandi, warga Tanjungpinang juga menyampaikan hal sama.

"Lama saya di tempat itu. Dulu kami sering keliling mencari telur penyu," ungkapnya.

Pantai berpasir putih yang mengelilingi pulau itu memang memungkinkan untuk penyu singgah dan bertelur. Hanya saja, pasir putihnya dikotori beraneka sampah yang terdampar.

Kotornya pantai oleh sampah ini disayangkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Tanjungpinang, Surjadi. Menurutnya, salah satu jalan menjadikan pantai di Pulau Terkulai bebas sampah adalah dengan menjadikan pulau itu sebagai tempat wisata.

"Kalau dikelola, artinya akan ada yang berkewajiban membersihkan pantai di sini," kata Surjadi saat mengunjungi tempat itu, Minggu siang.

Ia mengaku pihaknya akan mengusahkan Pulau Terkulai sebagai objek wisata dengan tetap menjaga keastiannya.

"Kami akan membicarakan dengan pemiliknya," tuturnya lagi.

Menurut Surjadi, sepengetahuannya Pulau itu dimiliki Hengky Suryawan, seorang pengusaha di Tanjungpinang.

"Tapi apakah masih dimiliki beliau, akan kami telusuri lagi," tutupnya.   

Kesetiaan Penjaga Menara Suar

Selain Usman dan nelayan lain yang tinggal musiman, Pulau Terkulai dihuni oleh dua penjaga menara suar yang bertugas secara bergantian. Salah satunya adalah Urai yang telah bertugas di tempat itu sejak 7 tahun lalu.

Menurut Urai, lamanya dia bertugas di sana menjadikan Pulau Terkulai sebagai rumahnya. 

"Tempat ini sama sekali tidak membuat saya bosan," katanya.

Ia mengaku ingin menghabiskan sisa hidupnya di tempat itu, bersama istri dan anaknya.

"Enam tahun lagi saya pensiun. Kalau diperbolehkan saya ingin tinggal di sini," kata pegawai Navigasi ini.

Anak keduanya tak lama lagi menyusul anak tertuanya sudah menjadi sarjana. 

"Kalau ada rejekinya, mereka berdua mungkin akan bekerja dan menikah. Tinggal satu lagi yang bungsu. Kalau saya pensiun, saya ingin tetap di sini saja," kata Urai meski dia memiliki rumah di Tanjungpinang.

Baginya, ketenangan di Pulau Terkulai membuat dirinya nyaman.(*) 
 




Berita Terkait
Lihat Semua