BP Batam Laporkan Penggalian Pipa Ilegal di Duriangkang ke Polisi
15 Mei 2019
Kondisi penggalian pipa diduga ilegal dilakukan oleh PT Putra Pangestu Jaya. Atas tindakan ini BP Batam melalui Ditpam menyerahkan kasus ini kepada polisi. (Foto: Maulana)
INILAHKEPRI, BATAM - Badan Pengusahaan (BP) Batam, melalui Direktorat Pengamanan (Ditpam) melaporkan penggalian pipa diduga ilegal ke Polsek Sei Beduk, Batam.

Pelaporan ke pihak kepolisian ini setelah Ditpam BP Batam melakukan peninjauan dugaan penggalian pipa dimaksud di Daerah Tangkapan Air (DTA) Duriangkang.

Kepala Seksi Pengamanan Lingkungan Direktorat Pengamanan BP Batam, Muhammad Salim, Selasa (14/5/2019) menjelaskan, dari keterangan salah seorang pekerja, kegiatan ini diinisasi oleh PT Putra Pangestu Jaya. Kegiatan telah dilaksanakan sejak Kamis (9/5/2019) lalu.

Kecurigaan berawal dari diketahuinya aktivitas truk dan ekskavator di dalam DTA Duriangkang. 

Dari pengecekan, petugas Ditpam mendapati adanya penggalian pipa sekitar 300 meter dan lebar 3 meter. Penggalian mulai dilakukan dari tepi jalan hingga menuju waduk.

Keterangan salah satu pekerja, penggalian dilakukan atas izin dari BP Batam kepada PT Putra Pangestu Jaya pada tahun 2017. Namun, setelah dilakukan pengecekan dokumen, kata Salim, izin dimaksud berlokasi di Tembesi - Muka Kuning, bukan di DTA Duriangkang.

"Izin diberikan sebagai tanggapan atas surat permohonan PT Putra Pangestu Jaya dengan tujuan pembersihan lokasi dari material yang tidak berfungsi atau terpakai kembali," jelas Salim.

Selain itu, izin tersebut disertai dengan beberapa ketentuan yang dikeluarkan oleh BP Batam, yakni harus sesuai dengan petunjuk dari BP Batam dan segera melaporkan pasca kegiatan.

Salim menegaskan, pipa yang diduga sengaja digali PT Putra Pangestu Jaya tersebut merupakan inventaris BP Batam yang disewakan kepada PT Adhya Tirta Batam selaku pengelola air bersih di Batam pada tahun 2001.
 
Dia menegaskan kegiatan tersebut termasuk sebagai kegiatan ilegal.

"Jika ingin melakukan pengambilan pipa, BP Batam harus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan terlebih dahulu dan melakukan serangkaian proses pemutihan Barang Milik Negara (BMN). Jadi tidak bisa digali dan diambil begitu saja," tegasnya.
 
Sejauh ini Salim belum bisa memastikan apa tujuan dan motif dari penggalian pipa tersebut. Pihak PT Putra Pangestu Jaya belum bisa dimintai penjelasan.

"Pihak perusahaan belum bisa dipanggil karena sulit dihubungi. Sedangkan para pekerja hanya menjalankan perintah. Sehingga Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam serta PT Adhya Tirta Batam sepakat untuk menyerahkan permasalahan ini ke pihak yang berwajib," kata dia.

Pelaporan disampaikan kepada Polsek Sei Beduk.

Dalam kasus ini, Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam serta PT Adhya Tirta Batam berharap pelapor melakukan pemasangan kembali pipa yang telah digali dan dilepaskan. Pelapor juga diwajibkan melakukan reboisasi atas kerusakan hutan. (Maulana)




Berita Terkait
Lihat Semua