Balai KarantinaTanjungpinang Gelar Rakor Cegah Masuk dan Beredarnya Penyakit Jembrana
15 April 2019
Wali Kota Tanjungpinang Syahrul bersama Kepala Balai Karantina Kelas II Kota Tanjungpinang Donny Muksydayan saat membuka Rakor Pencegahan Masuk dan Beredarnya Penyakit Jembrana di Tanjungpinang. (Foto: IST)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Dalam rangka mencegah masuk dan tersebarnya penyakit Jembrana ke Kepulauan Riau, Balai Karantina Tanjungpinang, Senin (15/4/2019), menggelar Rapat Koordinas (Rakor) lintas instansi se-Sumatera di Hotel CK.

Kepala Balai Karantina Kelas II Kota Tanjungpinang Donny Muksydayan mengatakan, kebutuhan masyarakat Tanjungpinang terhadap daging sapi tergolong tinggi. Umumnya daging sapi didatagkan dari luar Kepri. Salah satu daerah penyuplai daging sapi berasal dari Sumatera Selatan. 

Selain menemukan adanya peredaran daging sapi ileggal di pasar  yang kesehatannya tidak terjamin, Badan Karantina memandang penting mengantisipasi daging sapi yang didatangkan dari Sumatera Selatan.

"Ditemukan kasus penyakit Jembrana di wilayah itu," kata Donny.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewan, Agus Sunanto menambahkan, jenis Sapi Bali yang masuk Ke Kepri masih dalam keadaan sehat. Sejauh ini, penyakit Jembrana hanya menyerang Sapi Bali.

Dalam kesempatan sama, Kepala Balai Veteriner Bukit Tinggi, Krisnandana menyebut dari data tiga tahun terakhir, Kepri dia katakan tergolong unggul, kadang positif dan negatif karena sapi yang dikirimkan ke Kepri merupakan kebutuhan. 

"Namun demikian, tidak berarti ini untuk dibiarkan," paparnya.

Umumnya, sapi yang terkena Jembrana 80 persen kemungkinan bakal sembuh dan 20 persen mati. Sejauh ini Jembrana tidak membawa efek terhadap kesehatan manusia.

"Namun di sisi perekonomian menjadi permasalahan karena pastinya asetnya akan mati dan hilang karena penyebarannya yang cepat," paparnya.

Kondisi ini dia sebut mungkin perlu menjadi kesepakatan untuk diputuskan agar Kepri dalam konteks ini bisa teramankan agar tidak menimbulkan kerugian cukup besar.  

"Kami tau bahwa kriteria strategis penyakit yang penyebaranya cepat ini yang menjadi perhatian pemerintah," jelasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Tanjungpinang Syahrul yang membuka Rakor sangat berharap Rakor diadakan Balai Karantina Tanjungpinang ini dapat berdampak terjaminnya kesehatan daging yang masuk ke Tanjungpinang. 

"Sehingga semua daging yang masuk bisa dikonsumsi masyarakat," tegas Syahrul.

Untuk diketahui, penyakit Jembrana  atau disebut penyakit keringat darah pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1964. Penyebaran penyakit ini terdeteksi terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabana dan Buleleng di Bali, merupakan penyakit menular akut pada sapi yang disebabkan oleh retrovirus.

Umumnya, sapi mengalami demam, diare bercampur darah, pembengkakan kelenjar limfe, keringat darah, pendarahan pada mata, anoreksia (hilangnya nafsu makan), sapi bunting di atas 6 bulan akan mengalami keguguran dan mengalami erosi ringan sampai nekrosis terdapat luka pada epitel selaput lendir mata.

Di Indonesia Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1964. Wabah jembrana pertama kali terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng di Provinsi Bali, yang menyebabkan kematian tinggi pada sapi bali. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua