Menyulap Lahan Bauksit di Dompak Menjadi Lahan Pertanian Subur
18 Maret 2019
Seorang petani tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Jaya, menyiram kebun cabai yang di tanam di lahan bekas pertambangan bauksit di Tanjung Moco, Dompak, akhir pekan lalu. (Foto: Andri)
Menyulap Lahan Bauksit di Dompak Menjadi Lahan Pertanian 
Lahan bekas pertambangan bauksit ternyata memberikan peluang dalam pengembangan sektor pertanian. Di Dompak, Tanjungpinang, sekelompok petani mampu mengelola sejumlah tanaman holtikultura. Tanah merah gersang mereka sulap menjadi bentang hijau menghasilkan beraneka buah dan sayuran.

Pewarta: Andri Mediansyah

Ada dua kelompok tani (Poktan) yang kini getol bercocok tanam di kawasan Dompak. Yakni Kelompok Harapan Jaya di Tanjung Moco dan Kelompok Bunga Mawar di Sungai Sudip. Tanah bekas pertambangan bauksit mereka tanami cabai, melon, tomat, kacang panjang, semangka, beraneka sayur basah serta sejumlah tanahan holtikultura lainnya.

Ketua Poktan Harapan Jaya, Katimun (51) menjelaskan, usaha pertanian dilakukan bersama kelompok taninya itu sudah berlangsung cukup lama, bahkan sejak pertambangan bauksit marak di Pulau Dompak sekitar tahun 2010.

Sebagian diantara mereka menempati lahan-lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Luas lahan diolah petani beragam. Mulai 5000 m2 hingga 2 hektar per orang.

Menurut Katimun, semua jenis holtikultura berpotensi berkembang di bekas lahan bauksit. Dengan menggunakan pupuk yang memadai, tanaman yang mereka usahakan akan memberikan hasil yang baik.

"Kami menggunakan pupuk kandang. Batang jagung yang dihancurkan dicampur dengan kotoran ayam kemudian dipermentasi. Kadang dicampur MA-11 atau EM4," jelasnya, Sabtu (16/3/2019).

Hanya saja, masalah yang mereka hadapi adalah air. Keterbatasan sumber air membuat mereka harus putar otak untuk mencukupi penyiraman tanaman.

"Masalah lain, kalau hujan kadang membuat tanah terbawa air sehingga tanaman rusak. Masalahnya itu saja," ujar dia.

Ketua Poktan Bunga Mawar, Abdul Hamid Sagala menjelaskan, yang dibutuhkan dalam pengembangan lahan pertanian di lahan bauksit adalah memahami kandungan tanah. 
 
Tanah mengandung bauksit dia sebut memiliki unsur Kalium tinggi sehingga harus dinetralkan.

"Kandungan tanah seperti ini, tanaman yang cocok menurut kami adalah jenis umbi-umbian," kata Hamid.

Selain cabai, petani di poktan yang dia pimpin juga mengupayakan jenis tanaman umbi-umbian semisal singkong dan ubi jalar.

"Memang dibutuhkan mental yang cukup bagi masyarakat di Dompak untuk mengupayakan sektor pertanian ini," tegas Hamid.

Baik Katimun maupun Hamid sepakat usaha yang mereka lakukan sejauh ini tergolong berhasil. Buah dan sayur yang mereka upayakan ditampung oleh penampung yang ada di Kabupaten Bintan untuk kemudian disuplai ke daerah yang ada di Kepulauan Riau.

Camat Bukit Bestari, Faisal Fahlevi menerangkan, untuk mengembangkan pertanian di Kelurahan Dompak, pihaknya telah melakukan inventarisir kebutuhan petani. 

"Kebutuhan-kebutuhan petani ini sudah diajukan di dalam Musrenbang (Mustawarah Rencana Pembangunan)," kata Faisal. 

Ia berharap pertanian di Kelurahan Dompak ini dapat terus maju sehingga dapat menjadi penyangga ketahanan pangan Tanjungpinang yang selama ini memang bukan tergolong daerah penghasil.

"Dengan majunya pertanian di Dompak, tentu kita berharap apa yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan di Tanjungpinang sehingga tidak lagi bergantung dari daerah luar," paparnya.

Selain mencukupi kebutuhan pertanian, Faisal menyebut pihanya bersama petani yang terlibat tengah mengupayakan pertanian menjadi objek wisata.

"Fasilitas penunjag eko wisata tengah dipersiapkan sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan berdampak kepada sektor ekonomi masyarakat sekitar," papar Faisal. (*)





Berita Terkait
Lihat Semua