Keributan Warnai Sidang Putusan Pembunuhan Supartini
27 Februari 2019
Nasrun DJ dikawal pihak kepolisian dan petugas Kejaksaan Negeri Tanjungpinang keluar ruang sidang utama Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (26/2/2019). Persidangan diwarnai keributan. Pihak keluarga korban tidak terima atas vonis hakim yang menjatuhkan hukuman penjara selama 15 tahun kepada Nasrun DJ. (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Keributan mewarnai sidang pembunuhan Supartini, janda beranak satu yang ditemukan tak bernyawa 15 Juli 2018 lalu. Pihak keluarga korban tidak terima atas vonis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang yang menjatuhkan hukuman penjara 15 tahun terhadap terdakwa Nasrun DJ (59).

Pekikan terdengar sesaat setelah petugas Kepolisian dan Kejaksaan Negeri Tanjungpinang mengawal Nasrun ke ruang sidang utama. Beberapa pihak keluarga yang tidak tidak terima berupaya menembus pengawalan polisi dan petugas kejaksaan, berupaya mendekati Nasrun yang ketika itu mengenakan songkok hitam dan kemeja motif kotak.

"Kami tidak terima. Ini tidak adil. Kau bisa saja mendapat hukuman ringan sekarang. Tapi kau ingat, ada pengadilan akhirat," kata seorang pria yang merupakan keluarga Supartini sambil berupaya meraih tubuh Nasrun yang sepertinya ketakutan.

Aksi ini mengakibatkan papan pembatas ruang tunggu sidang dan pas bunga terjatuh dan berserak di lantai.

"Kami tidak terima. Mestinya dia dihukum seberat-beratnya. Bla perlu mati. Dua orang yang dia bunuh," kata Fitri, salah seorang kakak korban sambil menangis.

Kakak sulung Supartini bahkan sempat tidak sadarkan diri setelah mendengar putusan majelis hakim.

Kegaduhan di persidangan ini sedikit mereda setelah petugas kepolisian dan petugas Kejari Tanjungpinang berhasil membawa Nasrun ke dalam mobil dan membawanya ke Rumah Tahanan Tanjungpinang.

Pasal Pembunuhan Berencana Tidak Terbukti

Dalam persidangan Majelis Hakim diketuai Eduart MP Sialoho dan beranggotakan Ramauli Hotnaria Purba dan Corpioner menyatakan pembunuhan berencana, atau termuat dalam pasal 340 KUHP sebagaimana dakwaan primer yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tanjungpinang, tidak terbukti.

Majelis hakim menimbang pembunuhan terhadap Supartini itu terjadi secara serta merta dilakukan Nasrun. 

Manajer Operasional  PT Bodhi Sinar Cipta, anak perusahaan perusahaan real estate Sinar Bahagia Group ini, dikatakan Majelis Hakim kalap setelah korban Supartini yang sedang mengandung minta pertanggungjawaban, menikahinya dan meminta Nasrun menceraikan istrinya.

Berdasarkan fakta persidangan, kata majelis hakim, unsur pembunuhan berencana sebagaimana dakwaan primer oleh JPU tidak terbukti.

Namun Nasrun dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan sebagaimana dakwaan subsider pasal 338 KUH Pidana. Majelis hakim menyatakan tidak ada yang meringankan Nasrun dan menjatuhinya hukuman kurungan penjara selama 15 tahun. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan JPU berupa hukuman 20 tahun penjara.

Vonis menjelis hakim inilah yang kemduian mengundang rasa kecewa pihak keluarga Supartini.

Terhadap putusan Majelis Hakim, JPU Nolly Wijaya menyatakan pikir-pikir.

"Saya akan meminta petunjuk pimpinan. Masih ada waktu seminggu lagi untuk pikir-pikir kataya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Tanjungpinang, Amri, merasa dakwaan pembunuhan berencana yang mereka ajukan sudah tepat.

"Kami yakin unsur 340 (pembunuhan berencan terpenuhi. Itu dapat dilihat dari fakta-fakta persidangan," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Supartini, janda berusia 37 tahun ditemukan tak bernyawa di bawah Jembatan Dompak menuju Wacopek, Minggu 15 Juli 2018 lalu.

Kondisinya saat itu mengenaskan. Sebagian tubunya dimasukkan ke dalam karung yang diberi pemberat berupa batu.

Kepolisian Polres Tanjungpinang berhasil mengungkap pelaku pembunuhan sadis itu, yang tak lain adalah Nasrun DJ, Manajer Operasional  PT Bodhi Sinar Cipta, sebuah perusahaan pengembang perumahan ternama di Tanjungpinang.

Pembunuhan dilatarbelakangi asmara. Supartini yang dalam keadaan hamil 3 bulan dibawa kebun di Jalan Ganet. 

Di perkebunan tak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah itu nyawa Supartini dihabisi Nasrun menggunakan kayu. Dalam keadaan tak bernyawa, tubuh Supartini dimasukkan ke dalam karung, dan akhirnya dibuang di sungai tempat dia ditemukan. (Andri) 





Berita Terkait
Lihat Semua