Praktik Prostitusi Online Cewek Panggilan Batam Terbongkar
12 Februari 2019
Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga, didampingi Kasubdit IV Ditreskrimum Kompol Dhani Catra Nugraha memberikan keterangan pers di Mapolda Kepri, Batam, Senin (12/2/2019). (Foto: IST/Humas Polda Kepri)
INILAHKEPRI, BATAM - Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepulauan Riau membongkar praktik prostitusi daring (online) di Kota Batam.

Dalam konfrensi pers digelar Senin (11/2/2019) sore tadi, Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga, didampingi Kasubdit IV Ditreskrimum Kompol Dhani Catra Nugraha menjelaskan, praktik prostitusi online ini terungkap setelah dilakukan penyelidikan selama tiga bulan, persisnya sejak Desember 2018 lalu.

Dalam praktiknya, tersangka berinisial AS alias A memperdagangkan sejumlah wanita yang dia rekrut melalui laman internet (website).

Tersangka As alias A diamankan pada Sabtu (9/2/2019) sekitar pukul 17.30 WIB, setelah salah seorang anggota Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri yang menyamar sebagai pembeli berhasil melakukan transaksi, memesan pekerja seks komersial yang dijajakan As alias A lewat laman "Cewek Panggilan Batam".

Saat itulah kemudian AS alias A langsung diamankan. Dia ditangkap di Puri Selebrity 3 Kota Batam bersama korban yang dijajakannya. Wanita itu diketahui dibawa tersangka dari Jakarta dan dijadikan sebagai PSK lewat sebuah iklan di internet.

Di Mapolda Kepri, Subdit IV Direskrimum Polda Kepri berhasil mengungkap sejumlah wanita yang diperdagangkan oleh tersangka. Yakni : 

1. RS Alias E, 19 tahun, asal Pangandaran, Jawa Barat.
2. NJ, 20 tahun, asal Cirebon, Jawa Barat.
3. VR, 20 tahun, asal Purwakarta, Jawa Barat.
4. M A F Alias C 32 tahun, asal Medan, Sumatera Utara.
5. FH Alias I, 32 tahun, asal Jakarta.
6. W A W, 23 tahun, asal Jawa Tengah. 
7. L, 19 tahun, asal Medan.

Atas perbuatannya itu tersangka kini mendekam di sel Mapolda Kepri. Dia dijerat pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun. Selain itu, dia dijerat pasal 45 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik junto pasal 64 ayat (1) KUHP. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua