Industri Kecap Tradisional di Senggarang, Hasilkan Kecap Berumur Setahun Khusus Perayaan Imlek
04 Februari 2019
Harsono (70), di antara kendi berisi bahan pembuatan kecap di Senggarang pertengahan Januari 2019 lalu. Pabrik berumur 40 tahun ini menghasilkan beberapa jenis kecap yang dilakukan secara tradisional. (Foto: Andri)
Kedelai bercampur air garam dijemur. Berbulan-bulan. Ada yang sengaja diendapkan setahun untuk dikonsumsi khusus pada perayaan Tahun Baru Imlek.

Pewarta : Andri Mediansyah

Pabrik itu terletak di tepi jalan menuju Senggarang Lama, Tanjungpinang, dibatasi pagar beton. Letak persisnya berada lingkungan RT2/RW10. Di halaman pabrik terdapat ratusan kendi dari tanah, tersusun rapih. Ukurannya beragam. Di halaman juga terdapat bak dari beton. Kendi dan bak itu berisi kacang kedelai dicampur air garam. 

"Kalau panas tutupnya dibuka. Dijemur. Kalau hujan ditutup," kata Harsono, 70 tahun. Dia pekerja di pabrik tersebut. Sudah 10 tahun bekerja di sana.

Menurut Darsono, setidaknya dua bulan kacang kedelai campur air garam itu dijemur untuk kemudian dimasak,   dijemur lagi hingga berbulan-bulan.

"Lama penjemuran mempengaruhi rasa. Semakin lama semakin bagus," terang Harsono.

Umumnya, kecap asin baru bisa dikemas dan jual setelah 4 bulan dijemur, setelah permentasi kandungan garam dan kacang kedelai sudah sempurna menghasilkan kecap asin yang nikmat untuk dikonsumsi.

"Itu yang biasa. Kalau mau lebih enak, dijemur ya lebih lama lagi," terang Harsono.

Di pabrik tempat Harsono bekerja ini ada tiga produk kecap dihasilkan dengan label merk berbeda pula. Ketiganya Cap Kelapa (dijual Rp6 di ribu/botol), Cap Ayam (Rp8 ribu/botol) dan Cap Pagoda (Rp12 ribu/botol). Ketiga merk ini adalah kecap asin dan kecap sayur, kecap yang biasanya menjadi bahan campuran untuk membuat atau mengkonsumsi sop.

Ketiga jenis kecap ini semuanya dikerjakan dengan cara tradisional, tanpa bantuan mesin. Sembilan pekerja di pabrik  ini melakukan pekerjaan mulai dari memilah kedelai, mencampurnya dengan air garam, menjemur, memasak untuk kemudian dijemur lagi, hingga proses akhir yakni pengemasan untuk kemudian dilempar ke pasaraan yang hampir merata di seluruh daerah di Kepulauan Riau.

Proses pengerjaan secara tradisional ini telah berlangsung sejak awal pabrik ini beroperasi tahun 1979 atau 40 tahun lalu. 

Dengan tahapan buatan secara tradisional ini, Harsono menjamin kecap yang dihasilkan memiliki citarasa khas karena melalui tahapan cukup lama dan proses pengerjaan yang sabar dan disiplin.

Saat menjemur misalnya. Tutup kendi tempat kacang kedelai berpermentasi dengan air garam dibuka saat cuaca panas.

"Kami harus menjaga dan memastikan kecap tidak dimasuki air hujan. Kalau sampai kehujanan, kecapnya akan rusak," jelas Harsono.

Dia memastikan seluruh tahapan yang dikerjakan dengan ketelitian itu menghasilkan kecap yang memiliki citarasa khas.

"Seperti ini misalnya," kata dia sembari membuka salah satu kendi yang tersusun paling ujung dan terpisah dengan kendi lain.

Kecap di dalam kendi itu Harsono sebut telah diendapkan dan dijemur selama kurun waktu minimal satu tahun.

"Rasanya enak!" ucap Harsono mencicipi kecap yang melekat di ujung kelingkingnya. 

Tapi sayangnya, kecap berumur setahun itu dia katakan tidak dijual untuk umum, hanya dikonsumsi oleh pemilik pabrik dan kelurga, kerabat atau teman dekatnya saja. 

"Ini cuma dimakan setahun sekali. Waktu Imlek," ucap Harsono tersenyum. (*)





Berita Terkait
Lihat Semua