Afurwan Menangis, Meminta Maaf Kepada Umat Muslim
30 Januari 2019
Afurwan Divine menangis saat memberikan penjelaskan kepada pers di Mapolres Tanjungpinang, Rabu (30/1/2019). Dia ditetapkan sebagai tersanga ujaran kebencian di media sosial Facebook sehingga menimbulkan kemarahan banyak pihak. (Foto: Masrun)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Di Mapolres Tanjungpinang, Rabu (30/1/2019), Afurwan Divine yang ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian di media sosial Facebook  menangis dan meminta maaf kepada umat Muslim.


Di hadapan jurnalis, beberapa tokoh Agama Islam dalam konfrensi pers digelar di Mapolres Tanjungpinang, Afurwan menyatakan menyesal telah mengunggah pernyataan di group info Tanjungpinang yang menyebabkan kemarahan sebagian besar umar muslim.

"Saya pemilik akun Facebook yang memposting ujaran kebencian. Hari ini saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Tanjungpinang," ucap Afurwan sambil meneteskan air mata. 

Dia sangat berharap permohon maafnya diterima.

"Dari dalam diri saya, saya menyesal. Apa yang saya lakukan ini salah dan saya mohon bagi semua yang dirugikan untuk memaafkan. Agar saya tidak menerima dampak sosial yang terlalu besar, baik itu bagi diri saya dan keluarga saya," sambungnya. 

Afurwan menambahkan, dengan berat hati dirinya akan menjalani hukuman ini. Meski beberapa tahun kedepan tak lagi bersama anak dan istri serta kerabatnya. 

"Sampai saat ini saya tidak ketemu dengan keluarga, karena saya berada di sel Polres Tanjungpinang untuk menjalani proses hukum," imbuhnya. 

Di tempat itu juga, Riswandi, selaku perwakilan umat Muslim Tanjungpinang mengajak seluruh komponen masyarakat khususnya Ormas Islam di kota ini untuk memaafkan Afurwan. 

Namun proses hukum tetap berlanjut sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 

"Sebagai seorang Muslim maka wajib kita memaafkannya," ajaknya. 

Riswandi kembali mengajak netizen, dengan berbagai latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan agar bermedia sosial dengan bijak. Dengan menjaga lisan, tulisan, tangan. 

"Mari kita berhati-hati untuk memanfaatkan bermedia sosial agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak inginkan," jelasnya. 

Menurutnya, Afurwan memposting 5 point unsur ujaran kebencian di Facebook. Diantaranya mendiskreditkan kelompok berlatar belakang Islam sebagai kelmpok ektrim dan semacamnya, Menyebut kaum kapitalis dengan sebutan biadapdan serakah, menyebut birokrat degan sebutan goblok,  dan menyatakan Agama Islam dengan bahasan yang tidak santun.

"Yang kita soroti nomor 4 tentang dengan mengatasnamakan Islam secara keseluruhan," pungkasnya. (Masrun)





Berita Terkait
Lihat Semua