PMII Pertanyakan Masuknya 3.442 Mobil Mewah di Lobam
02 Januari 2019
Mahasiswa tergabung dalam PMII menggelar unjuk rasa di Tugu Pensil, Tanjungpinang, Rabu (2/1/2019). Mereka mempertanyakan soal masuknya ribuan mobil ke Lobam Bintan. (Foto: Masrun)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - 10 mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tanjungpinang-Bintan menggelar aksi demonstrasi di Tugu Pensil, Rabu (2/1/2019) pagi. Mereka mempertanyakan masuknya 3.442 unit mobil mewah di Kawasan Industri Bintan (KIB), Lobam, Kabupaten Bintan pada Jumat (28/12/2018) lalu. 

Dalam unjuk rasa ini, mereka mempertanyakan keuntungan dan pendapatan negara secara transparansi melalui Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjungpinang atas masuknya ribuan mobil tersebut.

Setelah 20 menit mengemukakan pendapat di muka umum, massa aksi yang dikawal aparat Kepolisian serta Anggota Satpol PP setempat menuju ke Aula rapat KPPBC Tipe Madya Pabean B Tanjungpinang untuk hearing (dengar pendapat). 

Korlap aksi, Pandi Ahmad S menilai, pihak Bea Cukai telah melakukan pembiaran pembersihan mobil-mobil di Lobam beberapa hari terakhir. 

Ia tidak menginginkan wilayah Negara Republik Indonesia khususnya Kepulauan Riau sebagai tempat persinggahan barang-barang ilegal dari pihak-pihak asing. 

"Apa keuntungan dan pendapatan negara sebagai tugas Bea dan Cukai Tanjungpinang," tutur Pandi bersama 9 pengurus PMII lainnya. 

Kepala Seksi Unit Layanan Informasi Bea Cukai, KPPBC Tipe Madya Pabean Bea Tanjungpinang, Oka A Setiawan didamping Staf Kasi Intel Kejari Bintan, Indra mengatakan, pihaknya tidak melakukan pungutan biaya masuk atas pembersihan berbagai jenis mobil mewah dan kapal tersebut.

"Karena tujuannya memang angkut lanjut di Australia, bukan digunakan untuk di sini," jelasnya. 

'Kami jamin tidak ada yang keluar dari kawasan karena petugas kita standby di sana dan masih melakukan pembongkaran," tambahnya. 

Ia menegaskan kembali, berlabunya kapal di Lobam Bintan disinyalir memiliki kutu, sehingga harus dibersihkan sebelum masuk ke Australia. 

"Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Bintan punya kewenangan mengizinkan melalui salah satu investasi BUMD karena pertimbangan bisnis," tuturnya. 

Kemudian menurut Setiawan, aktivitas fumigasi ribuan mobil itu, ia memastikan ada pemasukan uang untuk negara melalui pajak maupun biaya-biaya lain yang dikelola PT Sucofindo Bintan. 

"Saya gak tahu persis. Tapi logikanya pasti ada biayanya. Jelas yang dapat keuntungan adalah Sucofindo selaku BUMN, ujung-ujungnya biaya itu ke negara juga," jelasnya. 

Pihaknya menambahkan, jika selama keberadaan kapal asing melakukan fumigasi di Lobam memiliki problem maka aparat penegak hukum akan menindaknya. Namun hingga kini tak ada yang dipersoalkan atas kehadiran mobil mewah tersebut. 

"Ini terbukti beberapa hari yang lalu, Kejari Bintan sudah melakukan pengecekan ke lokasi. Alhamdulillah hasilnya tidak memunculkan kekhawatiran sperti adik-adik mahasiswa," imbuhnya. (Masrun)




Berita Terkait
Lihat Semua