Melihat Pabrik Geharu di Cikolek Bintan
29 Desember 2018
Pekerja di pabrik pembuatan geharu di Cikolek, Toapaya, Bintan, menempelkan label di batang geharu yang diproduksi. Geharu dengan berbagai ukuran dihasilkan pabrik ini dipasarkan hampir merata di Provinsi Kepulauan Riau. (Foto: Andri)
Sebuah pabrik geharu di Cikolek, Kabupaten Bintan, mengepulkan asap geharu di rumah-rumah pemujaan yang ada di Kepulauan Riau.

Pawarta : Andri Mediansyah

Pabrik itu berada di antara perkebunan di kawasan Cikolek, Desa Toapaya, Kecamatan Toapaya, Bintan. Letaknya terbilang tersembunyi diantara rimbun kelapa dan perkebunan masyarakat setempat. Tak ada penanda kecuali sebuah pagar yang akan dibuka oleh penjaga pabrik. 

Di sini, pertengahan Nopember sejumlah pekerja terlihat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Umumnya mereka bekerja dengan cara dan peralatan konvensional. Hanya terdapat satu mesin yang diberdayakan mencetak geharu ukuran kecil.

Ya. Di pabrik ini diproduksi beraneka jenis geharu. Dari yang seukuran sebesar lidi, hingga memiliki tinggi mencapai 12 kaki. Ada 18 pekerja yang dilibatkan dalam pembuatannya. Mereka memiliki tugas sendiri-sendiri: membuat cetakan, mewarnai, mengangkut dupa untuk kemudian dikeringkan, atau membubuhkan label untuk yang sudah siap dipasarkan.

Menurut Ribut, salah seorang pekerja di pabrik ini, ada ribuan batang geharu diproduksi dalam setiap hari. Namun geharu yang bisa diproduksi sebanyak itu hanya berlaku untuk yang berukuran kecil. Tidak dengan geharu dengan ukuran besar.

Untuk geharu ukuran setinggi 3 kaki saja, dibutuhkan waktu setidaknya 5 bulan hingga betul-betul siap untuk digunakan. 

"Ada berapa kali tahapan yang harus dilewati," jelas Ribut.

Geharu berukuran mulai 3 kaki hingga 12 kaki dikerjakan bertahap. Dikerjakan lapis per lapis yang setiap lapisannya memakan waktu 5 bulan. Lapisan dimaksud berupa serbuk kayu yang dicampur lem khusus geharu.

"Dilapis kemudian dijemur sampai satu bulan, lalu dilapis lagi sampai seukuran yang diinginkan. Paling cepat bisa 4 bulan. Setelah itu baru bisa ditempel motif dan dicat," papar Ribut.


Beroperasi Sejak 2002

Menurut Ribut, pabrik tempat dia bekerja ini mulai dibangun mulai tahun 2001, dan sudah memproduksi secara normal pada tahun berikutnya. Selain geharu, pabrik ini juga memproduksi lilin.

Pada masa awal beroperasi, pabrik ini memproduksi dalam jumlah banyak, dipasarkan ke sejumlah daerah di Kepulauan Riau seperti Tanjungpinang, Batam, Tanjungbalai Karimun, dan Tanjungbatu. 

Namun seiring perjalan, kini produksi sudah mulai mengalami penurunan. Saat ini, rata-rata dalam sebulan mereka memproduksi setidaknya antara 400 - 500 geharu berukuran besar. 

"Walau bisa disebut jumlah produksi menurun, tapi pesanan tetap lancar," jelas Ribut.

Permintaan geharu akan meningkat menjelang hari besar Umat Budha atau Konghucu. Imlek misalnya. (*) 




Berita Terkait
Lihat Semua