Buron 2,5 Tahun, Terpidana Pemalsuan Dokumen Kapal Ditangkap di Tasik Malaya
07 Desember 2018
Intan (tengah) ketika tiba di Kantor Kejaksaan Negeri Batam, Kamis (6/12/2018). Ia ditangkap jajaran Kejari Batam dan Kejagung RI di kediamannya di Tasik Malaya Jawa Barat. (Foto: Hadi)
INILAHKEPRI, BATAM - Setelah semapt buron selama terpidana kasus pemalsuan dokumen kapal tanker MV Engedi eks kapal tanker MV Eagle Prestige atau MV Nautic I di Batam, Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan dibekuk tim gabungan Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam dan Intelijen Kejagung.

Intan ditangkap di Batamia Art Komplek Ruko Rajapolah Permai Nomor 15, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat sekitar pukul 20.00 WIB, Rabu (5/12/2018). Ketika ditangkap dia kooperatif.

Kepala Kejari Batam Dedie Tri Hariyadi Kamis (6/12/2018) mengatakan, Intan ditangkap setelah Pengadilan Negeri (PN) Batam menjatuhkan hukuman 2 tahun 6 bulan pidana penjara.

"Dalam vonisnya Intan terbukti bersalah dan melanggar Pasal 263 Ayat (2) KUHP Junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP ," ungkap Didie.

Didie mengakui Intan sudah berusaha untuk melakukan banding mulai dari ke Pengadilan Tinggi hingga kasasi ke Mahkamah Agung. Namun hasilnya ditolak.

Setibanya di Batam, Intan langsung diserahkan ke Lapas Barelang untuk menjalani masa hukumannya. 

Sementara itu, Intan yang dijumpai di Kejari Batam mengaku hanyalah korban. Ia menegaskan jika dirinya difitnah dan dizolimi pihak-pihak yang berkepentingan pada kapal tersebut.

Sebagai agen pelayaran Intan mengaku telah mengikuti semua prosedur resmi dalam hal masuknya kapal MV Eagle Prestige atau MV Nautic I.

"Sebagai agen, setiap masuk kapal saya selalu lapor ke semua instansi, Syahbandar, Imigrasi, UPT Laut dan saya bayar pajaknya ke negara. Lalu saya dituduh memalsukan dokumen kapal," ungkapnya. 

Pajak yang dia bayar disebut bahkan dilakukan sebanyak dua kali. Dia mengaku banyak oknum yang bermain dalam perkara tersebut. 

"Saya akan buka semua siapa saja yang bermain dari kasus ini termasuk oknum UPT Kelautan dan pihak pemerintah yang berwenang atas Kapal MV Eagle Prestige atau MV Nautic I," tegasnya.

Intan berpendapat, potensi kerugian negara pada kasus yang dialaminya ini cukup jelas. Bahkan biaya yang dikeluarkan dirinya yang nilainya mencapai milyaran rupiah untuk membayar pajak dokumen, ternyata tidak disetorkan ke negara oleh oknum.

Dia mempertanyakan tidak ditahannya orang mencincang dan menadah kapal.

"Saat dirinya belum ditahan, kapal itu masih aman bersandar di Perairan Pulau Janda Berhias. Namun, saat saya sudah ditahan di Mapolda Kepri, kapal tersebut langsung hilang," beberny lagi.

Terkait pernyataan Intan, Kepala Kejari Batam Dedie Tri Hariyadi sangat mengapresiasi atas niat Intan untuk membuka kecurangan-kecurangan perihal dugaan keterlibatan oknum di UPT Kelautan dan instansi pemerintahan lainnya pada kasus yang tengah melilitnya itu.

"Saya berharap Intan mau mengajukan diri sebagai justice collabolator, biar semua jelas dan dugaan keterlibatan oknum di UPT Kelautan dan instansi pemerintahan lainnya pada kasus yang tengah melilitnya itu terungkap semua," ujar Dede. (Hadi)





Berita Terkait
Lihat Semua