Rusak Tembok Pembatas, 8 Ibu-Ibu Warga Kampung Melayu Ditetapkan Sebagai Tersangka
30 Oktober 2018
Sumur berada di areal lahan milik Djodi. Kekhawatiran warga akan terhentinya memperoleh air bersih dari sumur ini menjadi salah satu alasan delapan ibu-ibu di Kampung Melayu Tanjungpinang melakukan pengrusakan tembok pembatas. (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Delapan ibu rumah tangga warga Kampung Melayu RT 1 RW 3 Kelurahan Kampung Bulang ditetapkan sebagai tersangka pengrusakan tembok.

Kedelapan ibu rumah tangga ini masing-masing berinisial L, Ja, Su, Sy, Mg, Ra, RO.

Penetapan tersangka kedelapan ibu-ibu ini dibenarkan Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ucok Lasdin Silalahi. Di Mapolres Tanjungpinang, Selasa (30/10/2018), Ucok mengatakan jika penetapan tersangka terhadap kedelapan ibu-ibu itu setelah pihaknya melakukan tahapan penyelidikan dan penyidikan.

"Ada ditemukan dua bukti permulaan yang cukup," kata Ucok.

Dalam kesempatan ini, Ucok menyebut jika penanganan kasus ini tidak akan dihentikan. Kendati tidak dilakukan penahanan, kedelapan ibu-ibu itu akan mengikuti proses hukum hingga persidangan.

"Kasus ini tidak akan dihentikan (Sp3) mengingat tidak memenuhi kriteria penghentian sebuah perkara," kata Kapolres.

Kedelapan tersangka ini masing-masing dijerat pasal 170 ayat 1 KUHP.


Kekhawatiran Ditutupnya Jalan dan Sumur

Ditetapkannya kedelapan ibu-ibu warga Kampung Melayu, Batu 6 Tanjungpinang ini sebagai tersangka setelah polisi menerima laporan dari Djodi Wirahadi Kusuma yang tidak terima tembok pembatas lahan yang dia buat dirusak oleh kedelapan ibu-ibu tersebut.

Pengrusakan pagar teradi pada Senin, 13 Agustus 2018 lalu.
 
Ditemui di kediamannya, Selasa (30/10/2018), Darmisna, salah seorang ibu-ibu yang menjadi tersangka dalam kasus ini mengakui perbuatannya. Menurutnya, hal itu mereka lakukan karena tidak terima lahan yang merupakan jalan serta sumur yang menjadi sumber pemenuhan air bersih mereka ditutup.

"Saya akui kami salah karena merusak milik orang," katanya.

Menurut Darmisna, pengrusakan itu mereka lakukan karena merasa tidak ada solusi atas perundingan yang dilakukan sebelumnya.

"Kami tanya sama lurah, terus lurah bilang silahkan rusak. Ya kami rusaklah," ujarnya.

Terpisah, Linda, Ketua RT setempat mengaku tidak dapat menyalahkan apa yang diperbuat warganya.

Menurut dia, sumur yang berada di dalam lahan yang diklaim Djodi sebagai miliknya itu merupakan sumber kebutuhan air bersih bagi sebagian besar warga di sana.

"Di sini ada dua sumur. Di depan dan belakang. Kalau belakang kering, maka warga ambil di sumur depan. Nah, kalau yang belakang ditutup, tentu warga akan sulit dapat air bersih," ujarnya.

Untuk diketahui, Kampung Melayu - belakangan disebut Kampung Pelangi - berada di tepian laut. Warga setempat selama ini telah mengajukan permohonan ke PDAM, namun belum terpenuhi.

"Tentunya kami berharap pemerintah dapat mencarikan solusi atas masalah ini," ujar Linda. (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua