Pengakuan Gay Yang Menghabisi Nyawa Kekasihnya di Kota Kijang
24 Oktober 2018
Julianto (mengenakan sebo) di ruang Unit Reskrim Polsek Bintan Timur, Rabu (24/10/2018). (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, KIJANG - Julianto (24) terisak ketika menceritakan bagaimana dia menjerat leher kekasihnya Kardianus (21), di rumah kontrakan mereka di Kampung Kolong Enam, Kecamatan Bintan Timur, Kamis (18/10/2018) dini hari lalu. 

Di ruang Unit Reskrim Polsek Bintan Timur, Rabu (24/10/2018) siang, dia mengaku khilaf.

"Tak ada niat mau membunuh. Tadinya saya cuma mau bikin dia pingsan. Saya menyesal. Kalaulah dia masih hidup, saya mau minta maaf," ujarnya lirih. Dia menangis.

Kepada sejumlah jurnalis yang mewawancarainya, Julianto mengakui jika Kardianus adalah kekasihnya. Mereka sudah berpacaran sejak 7 bulan lalu, sejak sama-sama bekerja di sebuah lapangan Futsal di kawasan Tepi Laut Tanjungpinang.

Sebulan lalu, mereka memutuskan tinggal serumah di Kolong Enam. Julianto bekerja sebagai tenaga TU di salah satu sekolah di Bintan. Sedangkan Kardianus bekerja di swalayan.

"Kami selama ini memang sering ribut. Tapi ribut biasa-biasa saja. Kadang saya cemburu. Tapi itu biasa. Kelahi sebentar, setelah itu biasa lagi," kata Julianto.

Tapi ada satu sikap Kardianus yang tidak dia terima.

"Di sini (Kota Kijang), dia (Kardianus) memang tak ada keluarga. Dia merantau. Saya tak suka kalau dia bilang selalu merepotkan karena tinggal di rumah kami. Aku bilang tak ada merepotkan. Tapi dia selalu begitu. Sering. Aku tak suka. Padahal aku sering bilang kalau dia tidak merepotkan," papar Julianto.

Puncak kekesalan Julianto terhadap kekasihnya itu terjadi pada Kamis 18/10/2018). Hari itu, Kardianus kembali meributkan hal sama: mengeluh merepotkan Julianto.

Mereka cekcok hingga Kardianus sempat minggat. Julianto ketika itu berhasil membujuk kekasihnya kembali ke rumah. Tapi upaya itu tidak meredakan perasaan Kardianus. 

Hingga mendekati tengah malam, Kardianus masih meributi hal sama. Ocehannya masih terdengar. Julianto kesal. Dia lalu ke belakang rumah. Dia lalu mengambil tali tambang untuk mengambil air di sumur. Dipotongnya tali, lalu menghampiri Kardianus yang masih megoceh di teras rumah.

Kesal, Julianto lalu menjerat leher Kardianus dari belakang. Kuat sekali. 

"Tujuan saya supaya dia pingsan," tuturnya.

Jeratan itu membuat Kardianus tak bergerak lagi.

"Aku yakin waktu itu dia masih hidup. Aku raba detak jantungnya masih ada," tambah Julianto.

Tubuh Kardianus yang diam itu lalu dia seret mendekati tiang. Tali tambang itu kemudian diikatkan ke leher Kardianus. Sedang satu ujung ke kayu tulang atap teras.

"Tidak digantung. Aku sengaja membiarkan kepalanya membungkuk," ujar Julianto.

Dia kemudian masuk ke dalam rumah. 

"Adalah sekitar 15 menit. Tapi perasanku tak enak. Aku keluar lagi. Aku lihat dia masih juga tak bergerak," terag Julianto.

Dalam kepanikannya, Julianto berpikir membawa Kardianus ke rumah sakit. Didatanginya seorang tetangga. Saat itu sudah jam satu malam. Kepada tetangganya dia megaku Kardianus gantung diri. 

Singkat kata, Kardianus yang tidak bergerak lagi itu lalu dibawa ke RSUD Bintan menggunakan sepeda motor. Setelah diperiksa petugas medis, Kardianus dinyatakan sudah meninggal dunia.

Terungkap Dari Sejumlah Kejanggalan

Malam itu, kepada polisi Julianto menutupi kejadian sebenarnya. Kepada polisi dia menjelaskan jika Kardianus gantung diri. Tapi polisi tidak percaya begitu saja.

Seperti dijelaskan Kapolsek Bintan Timur AKP Muchlis Nadjar, kejanggalan diketahui dari berita acara pemeriksaan. 

"Pernyataannya selalu berubah-ubah," ujar Muchlis.

Kejanggalan lain berupa tali yang digunakan untuk korban gantung diri terlalu panjang. Kata Kapolsek: "Ini tidak wajar".

Ketidakwajaran lainnya adalah bekas luka jeratan di leher Kardianus.

"Kalau gantung diri, bekas luka mestinya di bagian atas leher. Tapi ini mendatar di bagian tengah," ungak Muchlis lagi.

Awalnya Julianto tidak mengaku. Setelah disampaikan sejumlah bukti, dia akhirnya mengakui kejadian sebenarnya.

"Tersangka ini memang tempramental. Tapi dia tidak dijerat pasal pembunuhan berencana karena menang tersangka tidak ada niat itu," ujar Kapolsek.

Sementara itu, jenazah Kardianus telah dipulangkan ke kampung halamannya di Pontianak, Minggu (21/10/2018). (Andri)




Berita Terkait
Lihat Semua