Yakin Dianiaya, Pihak Keluarga Ngatimin Menuntut Keadilan di Kantor Polisi
01 Oktober 2018
Seli (28) istri mendiang Ngatimin (kanan) beserta putra dan kuasa hukumnya saat membuat pengaduan di Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Tanjungpinang, Senin (1/10/2018) siang. (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Istri Ngatimin yang disangka melakukan penculikan terhadap seorang bocah di Tanjungunggat, Tanjungpinang, pada 12 September 2018 lalu, mendatangi Polres Tanjungpinang untuk menuntut keadilan.

Didampingi kuasa hukumnya, Seli (28), istri mendiang Ngatimin, Senin (1/10/2018) siang, meminta kejelasan atas tuduhan yang disangkakan terhadap suaminya. 

Di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Tanjungpinang, lewat kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum Pusat  Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia (LBH PAHAM) Kepulauan Riau, Seli membuat laporan. Yakni menyangkut pasal 210 KUHP tentang pencemaran nama baik, pasal 311 tentang fitnah, pasal 317 atas tuduhan penculikan, dan pasal 351 ayat 1 terkait tindakan persekusi, serta pasal 170 tentang penganiayaan yang diduga berkaitan dengan wafatnya Ngatimin. 

Kuasa Hukum Keluarga Ngatimin dari LBH PAHAM Kepri, Muhammad Indra Kelana SH menyampaikan, tujuan dibuatnya laporan tersebut adalah untuk memantapkan proses penyelidikan, penyidikan dalam mengungkap tabir apa yang dituduhkan kepada almarhum Ngatimin. 

"Klien kami meminta keadilan. Semoga, dengan adanya laporan ini bisa terungkap apa yang terjadi sesungguhnya," ucap Indra didampingi Seli  yang membawa serta anaknya Raka yang baru berumur 20 bulan.

Menurut pandangan hukum, lanjut Indra, dalam kasus ini Ngatimin beserta istrinya dapat dikategorikan sebagai korban atas kasus tersebut.

Dalam laporannya, istri mendiang Ngatimin menyertakan sejumlah bukti. Diantaranya berupa rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Thabib Kepri. 

Dalam rekam medis ini ditemukan beberapa luka disejumlah anggota tubuh Ngatimin. Diantaranya luka di telinga, lidah yang masuk kedalam sehingga tak bisa bicara dengan jelas, serta seperempat saraf ingatanya hilang. 

Dalam laporan juga disertakan slip gaji dari tempat kerja Almarhum yang saat kejadian sedang menjalankan tugas pekerjaanya mengantar satu paket barang di Kelurahan Tanjungunggat, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang.

"Tanpa disangka-sangka muncul satu tuduhan pada almarhum tepatnya di Jalan Sultan Machmud, Tanjungunggat," ungkap Indra.

Dengan dibuatnya laporan itu pihak keluarga almarhum Ngatimin menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk mengungkap kejadian sebenarnya. 

"Kami mohon perhatiannya, karena kita sama-sama tidak mau adanya kejadian seperti ini lagi. Adanya praduga tak bersalah lagi tetap ditegakan bagamimana pun juga," papar Indra.

Seli tidak membantah perihal riwayat asma yang diderita Ngatimin.   

"Memang kata ibunya, waktu kecil suami saya mengalami asma. Tapi sudah besar tidak lagi," jelasnya.

"Dengan laporan ini, kami dari pihak keluarga meminta kepada Kepolisian untuk tuntut tuntas kasus meninggalnya suami saya. Saya kepingin para pelaku diadili," imbuh Seli sambil meneteskan air mata.

Diketahui, setelah diserahkan kepada polisi (12/9/2018), Ngatimin alias Nanang (32) sempat dirawat di RSUD Raja Ahmad Thabib. Namun setelah 10 hari dirawat, ia menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (23/9) sore. (Masrun)





Berita Terkait
Lihat Semua