44 Ikan Berbahaya dan Invasif di Batam Dimusnahkan
31 Agustus 2018
UPT Stasiun Karantina Ikan Batam memusnahkan ikan berbahaya dan invasif yang dilarang masuk ke Indonesia, Jumat (31/8/2018). (Foto: Hadi)
INILAHKEPRI, BATAM - Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) melalui UPT Stasiun Karantina Ikan Batam, memusnahkan 44 ekor ikan berbahaya dan bersifat invasif, Jumat (31/8/2018).

Ikan dimusnahkan diantaranya berjenis  Aligator (Atractosteus Spatula), Arapaima dan Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys spp) hasil sitaan dari sejumlah tempat yang ada di Batam.

Kepala UPT Stasiun Karantina Ikan Batam Anak Agung Gede Eka Susila menjelaskan, pemusnahan ini dilakukan guna mencegah kerusakan keanekaragaman hayati ikan dan lingkungan serta melestarikan sumber daya ikan asli Indonesia.

"Jika ikan berbahaya dan invasif ini berkembang biak di perairan kita, bisa dipastikan sumber daya ikan asli Indonesia akan punah, karena ikan ini jenis ikan buas yang memangsa ikan kecil," kata Anak Agung Gede Eka Susila, Jumat (31/8/2018).

Agung menambahkan, ikan-ikan berbahaya dan invasif ini merupakan ikan peliharaan masyarakat Batam, yang kemudian diserahkan ke UPT Stasiun Karantina Ikan Batam.

Sebelum dikubur, ikan-ikan ini terlebih dahulu dimatikan dengan direndam air yang sudah dicampurkan minyak cengkeh.

"Setelah ikan itu benar-benar mati baru dilakukan penguburan," ujarnya.

Total keseluruhan berjumlah 60 ekor, namun 6 diantaranya masih berada di Lokasi Wisata Hutan Mata Kucing dan Wisata Kebun Sei Temiang.

"Enam ekor ikan itu sekarang dijadikan sumber edukasi bagi pengunjungnya," kata Agung menambahkan.

Pengelola tempat wisata itu dikatakan Agung telah menandatangani pernyataan  untuk tidak melepas ke alam bebas.

"Kalau itu ditemukan, maka yang bersangkutan otomatis mendapatkan sanksi dan tindakan tegas sesuai UU 31 tahun 2004 diubah menjadi UU 45 tahun 2009 tentang perikanan," jelas Agung.

Selain itu, tim UPT Stasiun Karantina Ikan Batam terus melakukan pemantauan guna memastikan keberadaan ikan tersebut tidak membahayakan dan merugikan sumber hayati ikan lainnya.

"Sekalipun ikan tersebut mati, penanggungjawabnya wajib melaporkan dan menunjukan kekami bahwa ikan tersebut benar-benar mati," tegas Agung. 

Sebagaiamana tertuang dalam Peraturan menteri Kelautan dan Perikanan Permen KP. NOMOR 41/PERMEN-KP/2014 terdapat 152 jenis ikan berbahaya dan bersifat invasif yang dilarang masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Hadi)




Berita Terkait
Lihat Semua