Lemhanas Kaji Penyebab Penurunan Industri Galangan di Batam
20 Juli 2018
Ilustrasi: galangan kapal di Lobam, Bintan. (Foto: IST)

INILAHKEPRI, BATAM - Penurunan industri galangan kapal di Indonesia, khusunya Batam,  menjadi perhatian serius Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI. 


Dari 100 peserta Studi Strategis Dalam Negeri Program Pendidikan Reguler Angkatan LVII (SSDN PPRA 57), Lemhanas membaginya menjadi empat tim untuk mencari tahu penyebab menurunya industri andalan tersebut.


Di Batam, PT Citra Shipyard dijadikan sebagai tempat untuk mencari informasi terkait penunan industri galangan kapal di Batam. Menurut Ketua rombongan, Marsda TNI Tri Budi Satryo, dipilihnya perusahaan ini karena terbilang eksis, meski saat ini ekonomi global sedang anjlok-anjloknya.


"Makanya untuk tim yang ke Batam, kami lakukan di PT Citra Shipyard," kata Tri Budi yang juga tenaga ahli pengajar bidang ideologi di Lemhannas, Jumat (20/7/2018).


Di perusahaan ini  peserta SSDN PPRA 57 Lemhanas mendapati gambaran mengenai kondisi galangan kapal di Batam yang dikatakan masih belum stabil.


"Berbagai persoalan yang dihadapi selama ini belum dapat diatasi dengan baik," ujar Tri Budi.


Ini berdampak kepada sepinya pesanan pembuatan kapal, termasuk sektor terkait. Geliat industri galangan kapal dikatakan telah mengalami kelesuan sejak 2014.


Selain disebabkan situasi ekonomi global yang kurang baik, birokrasi berbelit dikatakan Tri Budi menjadi salah satu kendala bagi perusahaan galangan kapal untuk berkembang.


Salah satunya permasalahan pada pajak impor barang (PIB) dikeluarkan Kementerian Perhubungan. PT Citra Shipyat memiliki pengalaman soal ini, terkendala pengiriman tiga unit kapal hasil produksi dibebankan tidak adanya kepastian PIB.


"Persoalan ini menjadi kajian studi kami untuk dianalisa. Memang masih banyak persoalan. Ini menjadi tugas kami kedepan untuk diperbaik mengingat galangan kapal merupakan industri pertahanan Nasional," ungkapnya.


Dia menegaskan memang tidak semua regulasi mempersulit. 


"Tapi ada beberapa. Ini menjadi PR untuk dicarikan penyelesaiannya," katanya lagi. 


Selain Batam, SSDN PPRA 57 Lemhannas juga mengunjungi beberapa wilayah perbatasan lainnya, diantaranya Aceh, Bangka Belitung, dan Palu. (Hadi)





Berita Terkait
Lihat Semua