Sebulan Disidang, Ahi Divonis Denda Rp100 Juta
29 Juni 2018
Mulyadi Tan alias Ahi usai menjalankan persidangan di PN Tanjungpinang beberapa waktu lalu. (Foto: dokumen)

INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Melalui proses persidangan terhitung singkat (sekitar sebulan) Mulyadi Tan alias Ahi (33) yang terjerat dalam kasus penyeludupan ribuan botol minuman keras, divonis denda Rp100 juta atau digantikan dengan (subsider) kurungan selama sebulan.


Vonis terhadap bos salah satu tempat hiburan di Tanjungpinang ini dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Kamis (28/6). Persidangan berlangsung tanpa peliputan media mengingat pelaksanaannya yang berlangsung relatif pagi.


Vonis dijatuhkan majelis hakim - terdiri  Acep Sopian Sauri, Monalisa Siagian dan Santonius Tambunan - terhadap Ahi lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penutut Umum (JPU) berupa denda Rp150 juta atau kurungan badan selama 18 bulan.


Tuntutan maupun vonis dijatuhkan terhadap Ahi ini memang terbilang jauh dibandingkan dengan ancaman hukuman maksimal atas pasal 106 UU RI nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan dan pasal 142 UU RI nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan yang didakwakan kepadanya. 


Dalam pasal di undang-undang dimaksud, bagi pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha perdagangan tidak memiliki perizinan di bidang perdagangan yang diberikan oleh Menteri terancam pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak Rp10 miliar.


Selain itu, vonis terhadap Ahi ini terbilang tergesa-gesa. Vonis dijatuhkan  dua hari setelah JPU Kejari Tanjungpinang membacakan tuntutan pada Selasa (26/6).


Terhadap putusan yang dipercepat ini sebelumnya memang telah dijelaskan Haryo Nugroho, JPU Kejari yang menangani kasus ini. Selasa (26/6), Haryo menyebut dirinya yang meminta kepada majelis hakim supaya putusan dipercepat. Alasannya karena dia harus ke Jambi, melaksanakan serah terima jabatan. Haryo memang pindah tugas. 


Hal senada juga diakui Santonius Tambunan, Humas PN Tanjungpinang sekaligus hakim anggota dalam perkara ini. Menurutnya, permintaan JPU itu bisa dimaklumi dan dikabulkan supaya  sidang perkara ini tidak dibebankan kepada jaksa lain.


"Sebetulnya memang bisa saja digantikan jaksa lain. Tapi ini bisa dimaklumi," ujar Santonius.


Mempercepat proses persidangan dia katakan sesuai azaz peradilan: cepat, sederhana, dan berbiaya murah.


"Idealnya seperti itu. Semua peradilan diupayakan cepat.Supaya terdakwa cepat mendapat kepastian hukum," tandasnya.


Mengenai putusan, Santonius menjelaskan jika itu telah melalui beberapa pertimbangan. Bahwa Ahi merupakan pelaku usaha dan tulang punggung keluarha, ancaman pasal didakwakan bisa dipidana denda atau hukuman badan, belum pernah dihukum, sopan dan mengakui perbuatannya selama persidangan berlangsung.


"Meski tindakannya merugikan negara, sebagaimana diketahui, barang bukti juga sudah dirampas. Itu juga sebagai hukuman," tandas Santonius.


Ahi yang memang tidak ditahan selama proses persidangan menerima putusan majelis hakim. Dia melenggang karena membayar denda yang ditetapkan. (Andri)





Berita Terkait
Lihat Semua