Kesaksian AKP Felix, Drama Penyelamatan 13 Korban Tenggelam KM Bahtera Anugerah
24 Juni 2018
Proses evakuasi korban tenggelam KM Bahtera Anugerah di Tanjung Kelit, Lingga. (Foto: IST)

Proses penyelamatan 13 penumpang KM Bahtera Anugerah yang tenggelam  di Tanjung Kelit, Senayang, Minggu (24/6), seperti film aksi. Penuh drama yang menegangkan dan dilema. Ombak besar, teriakan kelompok orang yang terombang-ambing di tengah laut, dan kepanikan penumpang Oceana 10 yang meminta diturunkan ke darat.


 Pewarta: Andri Mediansyah


Langit di Pelabuhan Jagoh, Dabo, Lingga, Minggu pagi, gelap ketika AKP Felix Mauk, memasuki Ferry Oceana 10 yang akan mengantarnya ke Batam. Di dalam kapal penuh penumpang. Cuaca pagi itu dirasakan Kepala Satuan Narkoba Polres Lingga ini sepertinya tidak bersahabat. 


Dan firasatnya ini terbukti. Sekitar 30 menit berlayar, AKP Felix mendapat kabar dari kru kapal jika Syahbandar setempat memberi peringatan untuk menunda keberangkatan. Nakhoda Oceana 10 memutuskan bersandar di pelabuhan rakyat di Pulau Penuba.


"Waktu itu badai berlangsung hebat," kata AKP Felix ketika dihubungi Minggu malam.


Sekitar dua jam menunggu, Oceana 10 kembali melanjutkan pelayaran. Saat itu badai masih menyisakan keganasannya. Angin masih bertiup kencang, ombak bergulung tinggi.


"Waktu itu sebagian penumpang nampak panik," tutur AKP Felix.


Kasat Narkoba Polres Lingga ini sesaat kemudian berpindah ke ruang kemudi, bersama nakhoda dan sejumlah awak kapal lainnya. Dari ruang kemudi itu dia menyaksikan air laut bergulung menerpa bagian depan kapal.


"Air laut bahkan sampai naik ke atas," tuturnya.


Tapi Felix merasa tenang melihat nakhoda Oceana 10 percaya diri mengatur laju dan kapal. 


Sampailah  Sekitar dua jam kemudian. Mata Felix dari jauh memandang sesuatu yang tidak lazim di tengah lautan. Di antara percik ombak yang menderu, dari jauh Felix menyaksikan sekelompok orang. 


"Kami semakin yakin setelah kapal semakin dekat," tutur Felix lagi.


"Mereka memakai rompi (life jacket) dan melambai-lambaikan tangan," ungkapnya lagi.


Sekelompok orang itu berdiri di atas papan ditutupi terpal biru yang dimungkinkan bagian penutup kapal.


Di ruang belakang, kepanikan kian menjadi setelah penumpang yang memang sudah panik mengetahui kejadian itu.


"Dilema!" tegas AKP Felix.


Dirinya bersama nakhoda kala itu  dihadapkan dengan situasi yang serba salah. Satu sisi mereka harus menyelamatkan sekelompok orang yang terombang-ambing dihantam ombak tak kurang setinggi 2 meter. Sementara, di ruang belakang penumpang diantaranya ada yang muntah-muntah.


"Beberapa diantaranya meminta untuk diturunkan ke daratan terdekat. Mereka takut karena ombak saat itu memang sangat tinggi. Memang mengerikan," papar AKP Felix.


Setelah berdiskusi, Felix bersama nakhoda memutuskan untuk tetap melakukan penyelamatan.


"Jarak antara tempat kami di Tanjung Kelit dengan daratan terdekat sekitar 30 menit. Ini tidak mungkin. Jika mengantar penumpang, kami tak bisa membayangkan nasib mereka (yang terombang-ambing). Bisa jadi mereka tak bisa ditemukan lagi. Bisa jadi mereka tak bisa selamat," papar Felix.


Dalam kepanikan itu, AKP Felix bersama kru kapal dan dibantu sejumlah penumpang, berupaya mengevakuasi korban diketahui berjumlah 12 orang. Mereka terdiri dari lelaki dewasa, remaja, anak-anak, dan dua perempuan. 


Singkat cerita, proses evakuasi sukses dilakukan. Keduabelas korban saat itu berhasil dibawa naik ke Oceana 10, termasuk seorang wanita paruh baya yang saat itu dalam kondisi kritis dalam pelukan suaminya.


"Waktu itu dia (wanita belakangan diketahui bernama Eri, 45 tahun, warga Bengkong Nusantara, Batam), badannya masih panas. Saya berpikir saat itu dia masih hidup," ujar Felix.


Upaya menyelamatkan Eri diupayakan dengan berusaha mengeluarkan air dari tubuhnya. Sang suami berulang-ulang memberikan napas buatan melalui mulut. Tapi upaya itu tak membuahkan hasil. Tubuh Eri tetap saja kaku hingga kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Kelit.


"Belakangan baru kami tahu ternyata masih ada satu korban lain yang hanyut,. Berpisah dari rombongan," ujar Felix.


Dan belakangan pula diketahui korban hanyut itu berhasil diselamatkan. Dia ditemui terombang-ambing berpegang pada sebuah drum tak lama setelah dilakukan proses pencarian oleh petugas.


Belakangan diketahui, ke 13 korban merupakan penumpang dari KM Bahtera Anugerah yang berlayar dari Pulau Nipah menuju Batam. Kapal yang membawa pisang dan kelapa ini tenggelam setelah dihantam badai. (***)





Berita Terkait
Lihat Semua