Hakim Pertanyakan Identitas Axing, Pemesan 10.000 Botol Miras dari Bos Dope
05 Juni 2018
Mulyadi Tan alias Ahi usai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (5/6). (Foto: Andri)

INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang mempertanyakan nama Axing yang disebut sebagai pemesan minuman beralkohol (mikol) yang diseludupkan Mulyadi Tan alias Ahi, Bos Dope Club Tanjungpinang.


Dalam sidang digelar terbuka, Selasa (5/6), Ketua Majelis Hakim Acep Sopian Sauri mempertanyakan dan mempertegas hal tersebut kepada Ahi yang duduk di kursi pesakitan.


"Jadi Axing ini orangnya ada? Saya khawatir orangnya tidak ada. Kamu kenal? Pernah bertemu sama dia? Ada foto kamu berdua dengan dia?" tanya majelis hakim.


Namun kepada majelis hakim Ahi yang tidak didampingi pengacara menegaskan orang yang dia sebut sebagai pemesan ada alias tidak fiktif. 


"Ada. Orangnya segini (meletakkan tangan sekitar sekilan di atas kepala). Tidak gemuk tidak kurus," ujar Aki membela.


Axing yang ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh polisi sejak Januari 2018 dikatakan Ahi dia kenal di Jakarta. 


Ahi mengaku dalam hal ini sebagai perantara (broker) 10.000 mikol untuk dikirim ke Jakarta. Dia menyatakan tidak mengetahui pemilik dan ditugaskan mengirim mikol yang sempat dia simpan di gudang yang ada di Komplek Metro Industrial Park, Batu 6 Tanjungpinang.


Terhadap hal ini Ahi mengaku dijanjikan memperoleh imbalan Rp100 juta.


"Uangnya belum saya terima," kata dia.


Diberitakan sebelumnya, Ahi yang tidak ditahan dalam proses persidangan ini ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik Sat Reskrim Polres Bintan dan Polsek Bintan Timur mendapati bukti keterlibatan Ahi dalam proses pengiriman 10.000 botol miras tak berizin. Ribuan botol miras tersebut rencananya akan dikirim ke Jakarta menggunakan sebuah kontainer melalui Pelabuhan Sri Bayintan Kijang.


Dalam persidangan Selasa, JPU Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Haryo menghadirkan 8 orang saksi, termasuk saksi ahli dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 


Dalam kasus ini Ahi didakwa dengan pasal 106 UU RI nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan dan pasal 142 UU RI nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. (Andri)





Berita Terkait
Lihat Semua