Lagi-Lagi Arisan Online Makan Korban
20 November 2017
Arisan online kembali memakan korban. Senin (20/11/2017) siang, sebanyak 6 wanita membuat pengaduan ke Mapolres Tanjungpinang. Mereka merasa ditipu wanita berinisial LA yang menjalankan praktik online. (Foto: Andri)
INILAHKEPRI, TANJUNGPINANG - Enam wanita, Senin (20/11) siang, mengadukan wanita muda berinisial LA ke Mapolres Tanjungpinang. Mereka mengaku menjadi korban praktik penipuan dengan modus arisan online.

"Saya sudah berupaya menghubungi dia. Saya mau uang saya kembali. Tapi chat (brolan lewa aplikasi WA) tidak dibalas. Cuma dibaca saja," kata Suci, salah satu wanita mengaku korban arisan online di Sat Reskrim Polres Tanjungpinang.

Suci yang merupakan pedagang di Jalan Basuki Rakhmat ini mengaku rugi Rp 3 juta. Uang  itu terakumulasi dari setoran per 10 hari. Besarannya Rp150 ribu per sekali setor. Kebetulan Suci mengikuti di deret akhir penerima arisan.

"Arisan ini menggunakan sistem menurun," jelasnya. Peserta yang mengikuti arisan di deret atas menyetorkan uang yang lebih besar darinya. 

"Kadang uangnya ditransfer, kadang dia yang ambil. Kadang juga jumpa di jalan," ujar Suci lagi.

Suci mengaku tidak menyangka arisan itu berakir tanpa kejelasan. Terlebih dia mengaku cukup mengenal LA ketika sama-sama membuka kios di Ramayana.

"Tapi dia tidak punya itikad baik," cetus Suci. Dia mengaku sangat kesal.

Selain Suci, wanita yang mengadu dan memberi kesaksian diketahui bernama Yendri Yani, Syarifah Rodiah, Sartika, Larasanti dan Mutia Fitri Marlina. Profesi mereka beragam. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, pedagang, bahkan ada yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). mereka yang membuat aduan ini, salah satunya diketahui bahkan mengalami kerugian hingga Rp 30 juta.

"Selain kami, masih banyak lagi yang jadi korban," ungkap H Agung Wiradharma, pengacara yang mendampingi mereka.

Menurut Agung, pengaduan ke polisi ini dilakukan karena para korban merasa tidak bisa menyelesaikan persoalan arisan yang sudah diikuti sejak Februari 2017 lalu ini.

"Setakat ini masih dalam tahap pengaduan. Jika teradu (LA) tidak memiliki itikad baik, maka korban akan menindaklanjutinya dengan membuat laporan polisi," jelas Agung.

LA dia sebut bisa saja dijerat dengan pasa penipuan dan penggelapan sebagaimana diatur KUH Pidana. 

"Tentunya kami berharap pihak kepolisian dapat menindaklanjuti aduan ini. Apalagi terindikasi masih banyak yang lain yang mengikuti praktik arisan online ini," papar Agung. (Andri) 




Berita Terkait
Lihat Semua